Langsung ke konten utama

Postingan

Hari ke-10 : Cerita Cintaku

Aku ingin menceritakannya, tapi aku benar-benar malu.

Kalo kagum boleh disebut cinta, mungkin hati ini telah mencinta 9-10 gadis sepanjang ia berdetak.

Kalo boleh perasaan ini disebut cinta, mungkin hanya 2-3 saja yang sempat diungkapkan kepada gadis-gadis itu.

Kalo jawaban mereka itu juga bagian dari cinta, maka belum ada yang menjawabnya.

Ya, aku belum menemukan cinta.

Itulah mengapa aku malu menceritakannya

Hari ke-9 : Obrolan Sunyi Di Jalan Pulang.

Sore itu jalanan padat, khas waktu pulang kerja. Tak cuma pekerja, pelajar dan orang yang memiliki urusan di kota akan pulang ke rumahnya.

Bus Kota tak jauh berbeda dengan jalannya. Para penumpang berebut tempat duduk saat pintu bus terbuka. Terutama pekerja, mereka ingin tidur sembari menunggu dipanggil nama halte tujuan mereka.

Penumpang yang berebut beragam sekali. Pekerja dengan celana bahan hingga pekerja dengan sandal jepit kusam. Pelajar SD sampai mahasiswa tak berseragam hingga anak kecil yang ikut serta berekreasi orang tuanya.

Setelah sebuah tempat transit yang sesak, para penumpang masuk ke dalam bus, melaju bersama. 

Seperti yang diketahui, tidak semua orang dapat tempat duduk, akan ada lebih banyak pasang kaki yang tegak menahan tubuh yang (mungkin) kelelahan.

Nyaris tidak ada suara, kecuali satu dua obrolan teman sebaya, itupun sering ditegur petugas bus karena mengganggu. Lagu khas Jawa yang terdengar hanya di baris depan dan belakang atau teriakan petugas bis ketika akan sampai di halte berikutnya.

Namun, aku melihat mata mereka saling berbicara satu sama lain. "Obrolan" sore itu dibuka dengan mata seorang anak kecil yang pulang dari pusat perbelanjaan, mungkin sepatu yang dipakainya adalah sepatu yang baru saja dibeli. Matanya seolah berkata, "Duniaku indah sekali!".

Berjarak tak jauh dari sana, ada pelajar SMA. Matanya letih sekali, seperti seharian telah digunakan untuk melihat soal-soal. Namun nuraninya masih kuat untuk menahan diri mengambil tempat duduk yang barusan kosong untuk diberikan ke bapak tua bercelana bahan. Mata letihnya memandang sekitar, berkata dalam sunyi, "Kurang 5 orang yang butuh kursi, kemudian aku akan bergegas mengambilnya".

Ada bapak dengan celana bahan seadanya dan sandal jepit, membawa ransel ukuran besar yang tidak terlalu penuh, mungkin berisi beberapa alat pertukangan. Matanya sayu, berkantong mata tebal hasil begadang bertahun-tahun untuk jaga malam setelah kerja seharian atau sekadar mendengarkan istri dan anaknya bercerita. Matanya memandang dalam ke anak kecil yang ceria itu, "Duduk di sana, nak. Duduklah hingga tulangmu kuat untuk menghadapi hidup. Biar bapakmu bangga kelak". 

Aku sangat membaca sorotan mata bapak tua itu dan hampir semua orang yang menunggu halte tujuannya.

Hari Ke-8 : Tempat Yang Akhirnya Dikunjungi Lagi

Kalo ada 1 kota yang aku suka tapi selama pandemi absen kukunjungi tentu itu Yogyakarta. Kalo ada tempat yang aku ingin kunjungi, tentu adalah Masjid Jogokariyan. Betapa rindunya aku berkunjung ke sana.

Terakhir aku berkunjung, 15 April 2019. Aku ingat betul tanggal kepulanganku dari magang. Seingat pula dengan potongan kayu yang menjadi pegangan tangga. Ruangan magang seukuran separuh lapangan bulutangkis yang berkarpet hijau dan aula luas berdinding setengah dan lainnya ditutup dengan potongan kayu bersusun sepertinya pagar yang membuat dingin angin begitu terasa. Juga membuat azan terdengar jelas.

Dua setengah tahun sudah aku meninggalkan bangunan itu dan masjidnya, Masjid Jogokariyan.

Lalu, November lalu, ditengah kegundahan hati, perasaan rindu itu muncul. Aku tak pernah serindu itu pada sebuah tempat. Apalagi sebuah masjid.

Sabtu dini hari itu pun tiba, ia datang begitu saja bersama semangat untuk pergi. Pukul 2 persis aku berangkat menuju Yogyakarta menggunakan sepeda motor.

Jalanan ramai dengan bis dan truk yang berpacu melawan malam. Tersebab malam itu pula mereka berjalan, ketimbang berlawanan dengan motor-motor yang berjalan terburu-buru di siang hari.

Waktu bergulir cepat, azan subuh terdengar sebelum aku masuk Yogyakarta, tepatnya masih di kabupaten Magelang. Aku menghentikan motor di masjid biru tepi jalan, mengambil wudu. Aku baru menyadari tanganku mati rasa. Tanganku yang telanjang menerpa angin dingin dini hari sepanjang jalan.

Seusai salat, melanjutkan perjalanan dengan tangan tak merasakan apapun. Dicubit, ditekan, tak terasa.

Aku ingat betul, tanganku mulai merasakan hangat saat segelas jahe panas kupegang dengan kedua tanganku erat-erat. Bukan untuk dimimum, karena panasnya akan membuat mulit terbakar seharian. Tapi untuk membuat tanganku mengaktifkan kembali sensor perasanya.

Jahe panas itu tersaji di angkringan depan Masjid Jogokariyan.

Batinku berteriak, bahagia sekali. Aku kembali, bukan ke rumah, tapi ke masjid ini.

Pertama kali aku ke sini, tahun 2017, kunjungan ke Yogyakarta. Datang sebelum subuh dan duduk di angkringannya.

Kedua kalinya, tahun 2017 mungkin tersisa dua atau tiga bulan, aku mengikuti salah satu kajian yang jamaahnya mengular sampai ke jalan Parangtritis.

Ketiga kalinya, tahun 2018. Berkunjung ke kantor penerbitan yang sejalan dengan Masjid Jogokaryan. Berbincang dengan mereka, yang pada akhirnya menjadi tempat magangku di tahun berikutnya.

Januari 2022, ada rasa kangen yang kembali muncul. Khususnya malam ini. Ingin rasanya kembali ke Yogyakarta, terutama Masjid Jogokariyan.

Entah kapan.

Hari Ke-7 : Bukan Memilih, Dipilih

Kembali agak 'milosofis' hahaha

--

Suatu ketika, ada undangan masuk ke notifikasimu. Sebuah kegiatan yang tidak kamu sukai. Tidak suka bukan karena apa apa, karena memang tidak akan menyenangkan bila mengadiri undangan tersebut.

Kamu bimbang. Datang dengan malas atau menolak dengan tegas karena buat apa ikut bila bukan kemauan sendiri.

Ada yang datang, berkata, "Dik, ikut saja, pasti acaranya bagus. Mungkin kamu gak suka semuanya, tapi percaya kamu bakal bawa pulang sesuatu. Percaya kakak".

Kamu bingung namun akhirnya memutuskan untuk berangkat.

Acara berjalan seperti yang kamu duga. yang tidak kamu duga adalah kesempatan baik datang menghampirimu di sana. Dekat sekali. Kamu mengambilnya.

Rasanya senang sekali, seperti dapat mimpi tanpa tertidur. Kaget. Berkata kamu, "Ini yang kucari sejak lama".

Kamu pulang, mencari seorang yang berkata ikuti saja.

"Kak, kakak benar. Aku dapat sesuatu".

"Iya, dik. Itu karena kamu tidak memilih untuk hadir, kamu dipilih, dik. Dan kamu penuhi panggilan itu, selamat".

Hari Ke-6 : Lupa Dikebawahin

Agak filosofis, padahal kebodohan hahahaha

Terjadi lagi pagi ini, seletah mencuci beras dan menakar air di tempat masak beras, kemudian dididihkan di api agar lebih cepat matang ketika masuk ke ricecooker. Kemudian ditinggal masak yang lain.

Ketika sayur dan lauk sudah setengah matang, perut sudah mulai lapar, niat hati ingin menghangatkan nasi yang sudah matang, dibuka, dan  ....

"Loh, kok belum mateng".

Aku tersadar sesuatu, "Aduh, lupa dikebawahin". 

Indikator "cook" di bawah sebenarnya sudah menyala, namun lupa menggeser tuas ke bawah yang artinya tidak ada perintah untuk memasak.

Jadilah sekarang aku menghabiskan waktu untuk menunggu sambil menggado lauk dan sayur hahahaha

--

Sering gak sih dalam aktivitas lainnya, kadang ada satu pekerjaan yang lupa "dikebawahin" sehingga menyebabkan kegagalan atau minimal waktu terbuang?

Rasanya sangat sering. Ada lah satu dua detail yang terlupakan justru menjadikan segalanya ambyar



Hari Ke-5 : Cara Otak Saya Bekerja

Ruangan kerja sore itu meningkat suhunya dalam arti harfiah. Menjadi sedikit lebih panas. Memang sore hari bukan waktu yang tepat untuk mengerjakan sebuah soal.

Ada tiga bagian di sift sore itu, Memora si pengingat, Lisa si pengamat dan Ekse si eksekutor.

Ada sebuah pekerjaan masuk, "Memora, segera ingat rumus ini! Rangkaian seperti ini dan itu", suara komando memberikan perintah bersama satu kertas yang berisi sebuah konsep matematika dengan contohnya. "Segera jawab soal ini dalam 60 detik dengan benar atau nilai kita akan berkurang 1 poin".

"Siap pak, sudah saya ingat" jawab Memora cepat.

"Segera kirim ke Lisa untuk ditindaklanjuti, lalu kerjakan dan kirim ke kotak jawaban" suara itu menambahkan.

Lisa melihat kertas itu, dia menilai ada yang janggal. "Tunggu-tunggu, ada yang belum saya pahami, kenapa x di sini jadi angka genap, bukankah sebelumnya ganjil, lalu mengapa ..." sangkal Lisa.

"Kamu tinggal menyerahkan ke Ekse untuk mengerjakan soal di bawahnya" bantah Memora.

Saat Lisa menyerahkannya ke Ekse, "Hei! Kerja yang betul, Lisa! Ini tidak bisa kukerjakan! Mana hasil kerjamu, hanya ada salinan dari kertas saja? Aku tidak bisa bekerja tanpa hasil analisamu!"

"Tapi Ekso, waktu hanya tersisa 40 detik" Memora mengingatkan.

"No! Kalian semua payah! Ini bukan soal waktu, aku harus mendapatkan analisanya sebelum menjawab. Hei! Kalo salah menjawab nilainya akan berkurang 1".

"Sebentar, beri waktu 20 detik!" Lisa meminta.

Lima belas detik berlalu dengan ketegangan yang sunyi. Langit-langit terasa makin panas.

Tiba-tiba komandan mengirimkan pesan, "20 detik lagi, segera selesai pekerjaan kalian, Memora, Lisa dan ... Ekse"

"Baik, pak!", kompak mereka bertiga.

Lisa menyordorkan setumpuk kertas pembahasan kepada Ekse. "Ini yang kau minta!"

Sekilas membaca, "Hei! Bodoh sekali, waktuku tidak cukup untuk membacanya, ringkas menjadi 2 paragraf, cepat!"

"Huft, kau yang minta aku menjelaskan"

"Hei! Tapi penjelasanmu terlalu rumit!"

"Baiklah, ganti "x" dengan sebuah angka genap, nanti kau akan temukan jawabannya".

"10 detik teman-teman, segera!" suara itu kembali muncul. Alarm berbunyi seperti sirine ambulan. Tensi belum turun.

"Hei! Apa maksudnya ini, tulisanmu tidak jelas" Ekse nampak kebingungan.

"Hanya itu yang diberikan oleh Memora"

"Hei Memora! Ingat betul-betul rumusnya. Waktu kita tinggal sedikit".

"Kau sudah kuberikan ingatanku yang pasti benar masih saja tidak percaya"

"Hei! Tapi ini gak ketemu jawabannya! Rumusmu mungkin keliru, Memora"

"Tidak, ini rumus yang sudah ku ingat selama ini. Selalu ku ulang"

"Hei! Aku tidak peduli berapa lama kamu ingat tapi ini tidak ada jawabannya!

"Jangan-jangan kamu salah mengeksekusi, hah! Kamu sering keliru menjumlahkan, kerjakan yang teliti".

"5 detik lagi teman-teman, ayo!"

Kotak jawaban akan segera dikirimkan, ia akan segera tertutup.

"Ekse, tolong liat sekali lagi! Pasti kerjamu yang salah". Lisa memohon.

"Hei! Kalian ini, baiklah"

"2 detik"

"Hei kalian! Lihat ke sini, bantu aku mengoreksi. Ini ada di jawaban "C" namun bisa jadi juga "D"". 

Lisa melihat dan terkaget dengan pekerjaan Eksa. "Keliru kamu, Eksa. Ini dibagi dengan 3 lalu di kali -1"

"Hei! Kenapa baru bilang sekarang".

"1 detik teman-teman"

"Cepat lempar jawabannya!" Memora tidak sabar.

Tepat sebelum kotak jawaban dikirim, Ekse melempar jawaban ke kotak.

Terjawab lah sebuah soal.

--

Hahahaha gimana dialog aneh ini? Bisa kalian baca, kan? Aku belum terbiasa menaruh percakapan di tengah narasi.

Hari Ke-4 : Motoran

Jujur lumayan sulit ngejar nulis tiap hari. Saat ini saja aku sedang nulis dan edit dua tulisan sekaligus. Saking payahnya aku dalam hal konsistensi.

Anyway, tema tulisan ini kubuat superringan biar besok nggak utang lagi. Selamat membaca!

--

Aku suka naik motor ke mana-mana. Awalnya karena keadaan memaksa demikian. Namun, akhirnya suka bahkan cinta banget motoran. Ada yang kurang kalo sehari gak naik motor. Ceeeiiilah

Lebih spesifik, aku suka motoran sendirian dengan jarak lumayan jauh. Misal dari asrama ke tempat les, sumpah itu healing banget. 

Kamu pernah nggak ancur banget pas di satu tempat, terus naik motor, terus sampai di tempat berikutnya moodnya balik 180 derajat? Aku sering banget kejadian begitu karena motoran.

Ketika aku motoran sendirian, aku bebas ngapain aja. Teriak, naik motor agak kencengan dikit, self talk dan segala hal yang sering nggak bisa dilakuin saat turun dari motor.

Pake earphone saat motoran? Sebenernya berbahaya, tapi aku cukup sering melakukannya. Aku gak mempromosikan untuk kamu motoran dan nyalain musik kenceng. Kecuali kalo lagi ngnatuk, musik kenceng jadi "temen" yang jaga mata tetep seger.

Kalo menurutku, cuma dua musuh motoran sendirian, ngantuk dan kedinginan atau  masuk angin.

Motoran itu suaranya konstan, bro! Apalagi di Semarang yang para pengunna motornya santun-santun dan jarang pakai klakson. Suara mesin yang gitu-gitu aja bikin ngantuk kalo tanpa ngelakuin hal lain.

Kedua, masuk angin dan kedinginan. Entah kenapa kalo agak jauhan dikit tubuh mulai tembus angin dan tangan rasanya dingin banget. Apalagi malem dan kecepatan di atas 50 km/jam. Alamat kedinginan kalo perjalanan jauh.

Gitu aja ya, gak ada hikmah yang bisa diambil dari tulisan ini (emang yang lain ada?)

Hari Ke-3 : Buku dan Ceritaku

Ketika membaca buku, aku bukan hanya membaca sebuah cerita (fiksi) atau sepotong pembahasan (nonfiksi). Pada saat bersamaan aku sedang "menulis" dan "bercerita" tentang diriku.

Ketika aku membaca Laskar Pelangi misalnya, aku tidak hanya membaca cerita sekumpulan anak di Pulau Belitung yang berjuang untuk sekolah. Pada saat yang sama, aku merasakan aktivitas berangkat sekolah kadang bukan hal mudah. Ada saja penghalangnya.

Bila di Laskar Pelangi ada Lintang yang harus menunggu buaya lewat untuk melanjutkan perjalanan ke sekolah, aku pun dihalangi. Tentu bukan oleh buaya, tapi oleh rasa malas dan "rutinitas" di pagi hari (agak maksa sih ini, tapi ini relate. Serius).

Ketika aku membaca Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2, aku bukan saja membaca Abdullah Khoirul Azzam yang sedang jatuh cinta di negeri perantauan. Namun, aku merasa sedang tergila-gila pada Anna Althafunnisa di sini. 

Ketika membaca serial anak-anak Mamak, aku tidak hanya membaca kebandelan Pukat dan Burlian. Aku terbayang tentang diriku yang bandel sekali di perantauan. Yang kalau umi tahu pasti dimarahi sama seperti Mamak memarahi keempat anaknya.

Dan berbagai buku lainnya (semoga aku bisa menulis resensi dan ceritaku dalam buku apa saja yang sudah pernah kubaca secara lebih lengkap).

Cerita-cerita yang kubaca pasti akan segera "bercerita".

Hari Ke-2 : Mesin Waktu

Kamu percaya mesin waktu? Aku percaya.

Aku percaya sebuah mesin yang bisa menampilkan masa lalu dan masa depan. Mesin ini ada di kepala setiap orang. Namun seringkali banyak orang yang takut menggunakannya.

Mau kutunjukan? Mari kuajak ke mesin waktu yang kupunya.

Tombol pertama, "Klik!"

Selamat datang di 2010. Aku setengah berlari bersama teman-teman satu kelas di pelajaran olahraga, pelajaran yang selalu menyenangkan sekaligus melelahkan.

Kenalkan, ini aku. Kamu dapat mengenalku dari potongan rambut cepak, dengan tinggi tak lebih dari 130 cm. Mungkin lebih tinggi sedikit daripada murid laki-laki kelas 3.

Aku berlari di depan, bersama teman-teman yang tidak populer lainnya, berada persis di belakang guru. Bukan untuk terlihat mencolok. Namun, karena kami bingung caranya mengobrol dengan geng asik yang berada di belakang. Yang melambat seiring kerasnya tawa mereka.

Kalau kamu lewat di jalan saat itu, aku lah yang membawa botol besar. Aku bukan takut kehausan. Hanya saja, aku tak bawa uang lebih untuk jajan saat istirahat pelajaran. Bila aku jajan akan mengurangi jatah jajan di sore hari.

Kalo kamu berada persis di belakang ku, aku lah yang punggungnya basah karena keringat. Baju olahraga yang kukenakan tidak ramah pada tubuhku yang mudah sekali berkeringat. Bersarang sempurna di punggung kadang di perut baju.

Sudah cukup, mari kuajak ke tempat selanjutnya, "Klik!"

Sore di kota ini memang terkenal menyenangkan. Suasananya, anginnya. Apalagi guyub dan ramainya kampus ini.

Lihatlah ke gedung itu, lantai nomer dua. Ada tumpukan buku yang berserakan namun cukup rapi untuk dikatakan berantakan. Di balik meja, ada pria yang tenggelam di dalam kertas ujiannya.

Ia berbolak-balik dari buku pertama ke laptop ke buku selanjutnya ke kertas. Sepertinya ia sedang berkejaran dengan waktu.

Kalo kamu dekati, ruangan hening itu khusyuk sekali menemani pria itu. Kacamatanya tak setebal si kutu buku, tapi wajah dan gaya rambutnya membuat ia tampak beberapa tahun dari usia aslinya.

Aku lah orang itu. Orang dengan sifat yang tak banyak berubah.

Sekilas saja ya, lanjut kuajak ke tempat ketiga, "Klik!"

Ruangan ini hanya cukup untuk menampung 100 mahasiswa, namun, saking membludaknya, tercatat lebih dari 150 mahasiswa ikut mendengarkan.

Tidak, yang berbicara tidak selantang orasi di aksi massa. Ia hanya menyampaikan kuliahnya namun dengan cerita yang membuat mahasiswa jurusan lain rela ikut mendengarkan.

Kini usianya sepadan dengan penampilannya. Lebih berisi namun tetap suka olahraga. Walaupun hanya lulus dari kampus dalam negeri, ia dicintai mahasiswanya. Paling diharapkan untuk mendapat bimbingan. Namun tetap tegas ketika ujian.

Aku lah orang itu.

Mari kutunjukan tempat terakhir, "Klik!"

Di jalanan ibu kota nun jauh di sana, masyarakat individualis lalu lalang tanpa sapaan. Kecuali satu orang aneh ini, ia seperti kenal semuanya. Pedagang roti di samping stasiun, bapak tua penyebrang jalan dan si penjaga perpustakaan yang sama belibetnya dalam berbahasa Inggris.

Ia menggendong tas besar sekali. Memang tak berubah kebiasaannya yang suka sekali membawa barangnya ke mana-mana. Pagi itu, ia kembali bekerja di perpustakaan. Sudah menunggu beberapa buku untuk ia ulas hari ini.

Wajahnya sama, tak lebih tua sejak ia pindah ke sini, 3 tahun lalu. Hanya ada kerutan kecil ketika ia tersenyum. Sepertinya urat senyumnya mulai melemah.

Ia sampai di sebuah kursi, membongkar sebagian isi tasnya, mencari bulpoin yang bersembunyi. Aneh sekali. Ia biarkan sedikit berserakan karena ia tahu, yang masuk ke perpustakaan tak suka mengambil barang orang.

Itu juga aku, entah berapa puluh tahun lagi.

"Klik!"

Terimakasih sudah mengikuti perjalanan waktu bersama. Indah, bukan? Lalu kapan kamu akan berjalan menengok masa lalu? Atau mengintip masa depn? Ajak aku, ya.

Hari Ke-1 : Kabur

Pernah nggak sih kamu kabur?

Sebenernya sulit untuk bercerita. Bercerita adalah hal yang paling pribadi, apapun tema ceritanya. Sepertinya isi #30HariBercerita di blog ini akan sedikit sekali bercerita wkwkwk

Kembali ke pertanyaan, pernah nggak sih kamu kabur? (aku-kamu nggak papa lah ya, biasanya blog ini menggunakan kata ganti saya-anda hahahaha) Kabur, sebenar-benarnya kabur dari kehidupan. Ngilang dari peredaran. Pernah?

Aku pernah. Selama 7 bulan kabur dari duniaku. Sembunyi di balik rumah lamaku. Rumah yang sama dengan rumahku sebelum aku kabur.

Aku menghilang dari teman-temanku. Mengganti hape android dengan hape jadul yang hanya bisa untuk telpon dan sms, paling banter menyetel radio.

Kalo ditanya, kenapa aku kabur? Karena duniaku yang begitu rumit dan aku terjebak di dalamnya. Aku tidak bisa ke mana-mana, terkerangkeng dengan semua orang yang bisa dengan mudah memanggilku lewat beberapa ketukan.

Aku ingin kabur.

Aku ingin kabur dari kegelisahan karena berkali-kali gagal. Tahun 2020 adalah tahun kegagalan bagiku. Aku gagal masuk di perguruan tinggi yang kuingini. Aku gagal mewujudkan impianku tahun itu.

Akhirnya, aku benar-benar kabur.

Aku tidak mengambil kuliah dan memutuskan menjauh dengan urusan persiapan menuju perguruan tinggi. Aku kembali ke rumah itu dengan tujuan baru : kabur.

Lalu apa yang kurasakan?

Tenang sekali. Tidak ada notifikasi, dering pesan masuk, grup WhatsApp yang tidak ada habisnya, keributan media sosial. Semuanya hilang bersisa tenang.

Hape jadulku hanya berbunyi sekali sehari untuk membangunkanku. Jarang sekali ada sms masuk.

Nyaman sekali. Kamu tahu, 7 bulan aku kabur, aku merasa damai. Aku tak pernah setenang ini.

Namun, semua yang kabur akan dicari, atau paling tidak dinanti. Gelisahku datang kembali. Jenuh, khawatir atas masa depan, ingin tahu kabar teman-teman setelah lama tidak berkomunikasi.

Aku pastikan, kabur itu tidak enak. Segala yang ku tinggal kabur tetap menungguku kembali. Masalah-masalahku tidak hilang sama sekali. Justru menanti kedatanganku.

Kabur ternyata bukan solusi, justru menjadi pelipat ganda masalah.

.

Bulan berlalu, kuberanikan diri kembali. Datang ke duniaku yang belum berubah kerasnya. 

Untungnya aku menguatkan hati, agar tidak kabur lagi.