Langsung ke konten utama

Postingan

Percaya

Aku percaya yang kita harapkan besar, aku percaya betul jalan yang akan kita lalui terjal, walaupun aku percaya kemampuan yang kita miliki tidak cukup, tapi aku percaya perubahan kecil ini ada dampaknya

First Quote

Jika miskin, tidak ada yang bisa dibagi, serahkanlah dirimu. Pastikan kehadiranmu bermanfaat.

Pengingat : situasi ini sering banget terjadi. Akhir bulan, di saat kebutuhan belum semua tercukupi, ada yang sama sekali kekurangan.

Mau ngasih? Tak punya lebih.

Mau diemin? Jadi orang paling bersalah.

Solusi paling solutif adalah kasih skill yang kamu punya. Karena tak jarang skill kamu berikan jauh, jauh, jauh, lebih berharga dari apapun.


#semangatrelawansemangatberperan

Laptop 15 Inci untuk Kuliah - A dream with Asus VivoBook 15 A516

Ini pertama kalinya saya menulis ulasan produk, semoga hasilnya baik dan saya suka 😀

--

Sumber : dewirieka.com

Laptop adalah salah satu barang wajib bagi mahasiswa. Hampir setiap pekerjaan seorang mahasiswa bisa dikerjakan melalui alat ini. Dengan laptop pula, mahasiswa melakukan nyaris semua tugas-tugasnya.

Saya memperhatikan teman-teman saya yang mahasiswa hampir pasti akan berinteraksi dengan laptop setiap harinya. Walaupun sebuah telepon pintar semakin canggih dan bisa dipakai untuk mengerjakan banyak hal, laptop masih menjadi pilihan utama untuk tugas-tugas serius.

Saya pengguna laptop sejak SD, mulai sering mengerjakan tugas di laptop mulai SMP. Saat itu telepon seluler tidak sebesar dan secepat sekarang.

Mengapa Layar Besar Penting?

Perbandingan ukuran 3 laptop Asus Zenbook
Sumber : tek.id

Laptop pertama saya memiliki lebar layar 11 inci dengan konfigurasi ram 1 GB dan penyimpanan HDD 512 GB. Masih menggunakan prosesor Intel atom keluaran 2010 yang cukup lah ya untuk mengerjakan tugas-tugas menulis laporan OSIS dan menyimpan foto-foto kegiatan OSIS.

Layar notebook saya pernah ketika kelas 8 retak dan awal kelas 9 hanya bisa menampilkan separuh dari aslinya. Bayangkan cuma separuh saja.

Saya iri sekali waktu itu dengan laptop kawan SMP saya yanh saya yang sudah 14 inci. Rasanya sangat lega sekali.

SMA saya bisa mendapatkan pinjaman laptop yang lebih lebar dengan spesifikasi jauh lebih baik. Layar 14 inci dengan prosesor core i3 keluaran 2010 (lawas juga) dan ram 2 + 4 GB di kartu grafis. Karena dikasih, saya terima saja.

Laptop ini pada awalnya bisa untuk memainkan gim CSGO dan Spiderman tanpa lelet berarti. Lancar. Jujur saya lupa settingnya yang pasti tidak rata kanan.

Pengalaman saya dengan layar 14 inci ini adalah luar biasa. Lega. Bisa buka 2 tab Google Chrome sekaligus tapi masih nyaman sekali untuk dibaca dengan settingan default.

Pengalaman terbaik saya dengan sebuah laptop 15,6 inci merk Asus milik teman saya seorang mahasiswa teknik. Layarnya itu luas banget. Puas kalo buka aplikasi teknik dan tugas-tugas mahasiswa temenku itu.

Di beberapa aplikasi yang ada detail-detail angka atau keterangan yang kecil-kecil di layar itu kelihatan jelas. Layar laptop ini enak banget.

Maka, layar laptop Asus Vivobook 15 A516 ini menurut saya akan sangat nyaman dipakai untuk tugas-tugas kuliah. Wider screen emang terbaik.

Serunya, laptop keluaran baru kayak Asus Vivobook 15 A516 ini gak cuma gede di layar tapi performanya juga juara untuk laptop entry level.

Performa yang Tidak Pakai Lama

"Laptop dengan prosesor Intel® Core™ 10th Gen series ke atas didesain untuk performa dan mobilitas. Dengan efisiensi yang tinggi serta dimensi thin and light, laptop menawarkan peningkatan performa dan produktivitas untuk penggunanya. Konektivitas WiFi generasi terbaru juga memungkinkan transfer data 3x lebih cepat dibanding generasi sebelumnya."

Prosesor baru Intel ini, walaupun bukan yang terbaru, udah cepat banget dari sebelumnya. Di varian terendah saja, sudah dapet Intel Celeron N4020 yang dikombinasikan dengan ram 8 GB + 265 GB SSD. 

Bayangin, prosesor salah satu yang terbaru + SSD + ram yang cukup. Anti nungguin lama proses menyalakan dan mematikan laptop. Juga untuk tugas-tugas ringan bahkan menengah akan terasa gak lelet.

Apalagi varian tertingginya, Intel core i5 generasi ke 10 + SSD. Laptop ini saya yakin untuk rendering video ringan gak pake lama. Pun kalo harus rendering video berdurasi panjang gak perlu sampai ditinggal tidur semalaman.

15 Inci Tapi Gak Terlalu Besar

Mungkin ini definisi besar tapi gak kebesaran
Sumber : asus.com


Problem terbesar laptop 15,6 inci milik temanku adalah besar dan berat. Ukurannya yang besar + tebel banget jadi agak males kalo harus digotong ke mana-mana.

Untungnya, Asus Vivobook 15 A516 cuma 1,8 kg saja. Enteng banget nget nget. Kalo tas diisi laptop dan buku-buku lainnya saya bersedia untuk mobile dari asrama ke kampus ke mana lagi bawa laptop. Enteng sih.

SSD itu Wajib

"Komputer masa kini memiliki tampilan berbeda karena mereka memang berbeda. Dengan solid-state drive (SSD) dan teknologi terkini, Anda mendapatkan kecepatan, keamanan, ketahanan, dan desain yang cantik. Kami telah melakukan jajak pendapat, dan hasilnya, orang-orang lebih senang saat bepergian dengan PC modern."

Entah kenapa saya takut pakai HDD. Bahkan ketika laptop kecil saya dibawa kakak saya saya takut. Karena HDD punya kelemahan yaitu rawan guncangan.

Ada pengalaman dari guru dan teman saya yang membawa laptop dengan HDD kemana-mana. Karena terlalu sering naik motor bawa laptop akhirnya HDD nya kena. Akhirnya data-datanya hilang, raib semuanya yang ada di HDD.

Solusi terbaik adalah ganti dengan penyimpanan SSD. Paling mudah namun sedikit lebih mahal. Perbandingan harganya bisa 1:5 untuk SSD dan HDD. Dengan harga 128 GB SSD bisa dapat HDD 512 GB.

Namun, namanya juga ketakutan saya, akhirnya saya beli SSD dan saya gantikan HDD di laptop 14 inci saya ke SDD 128 GB. Turun kapasitasnya tapi ya sudahlah untuk keamanan.

Untuk kecepatan, saya cukup senang dengan SSD yang kenceng. Nggak sesenang dengan layar 15,6 inci karena harganya yang berkali lipat.

Laptop Baru, Software Original

"Nikmati semua manfaat dengan PC yang lengkap – PC sudah termasuk Office Home & Student 2019. Aplikasi Office versi lengkap (Word, Excel dan PowerPoint) memberikan semua fungsi yang dibutuhkan dan diharapkan oleh penggunanya. Penggunaan aplikasi Office seumur hidup dapat memastikan Anda untuk selalu memiliki akses ke fitur yang Anda kenal dan sukai. Dilengkapi dengan 100% aplikasi Office asli, software juga akan terus mendapatkan pembaruan keamanan yang rutin untuk melindungi perangkat, program dan data Anda."

Sebagai user yang pernah menikmati aplikasi bajakan, aplikasi original emang gak ada lawan. Saya gak harus repot-repot matikan WiFi (beberapa aplikasi harus menonaktifkan WiFi agak gak ketahuan) atau gak harus melakukan hal-hal lain untuk menjamin keselamatan software dari kenyamanan pengguna.

Namun tetap, untuk beberapa aplikasi teknik harus tetap menggunakan layanan bajakan karena harga asli sebuah aplikasi bisa seperti 1 laptop.

Kesimpulan

Asus Vivobook 15 A516 cocok untuk mahasiswa. Karena layarnya gede dengan ukuran yang gak kegedean. Performanya sip dan dapet software dan windows original gratis.

Saya akan sangat bersyukur bila punya laptop dengan layar 15,6 inci dengan performa yahud dari prosesor terbarunya Intel.

KISAH LELE DAN KARIER PODCAST SAYA

Ketika SMP, saya pernah ikut unit bisnis lele. cukup lama, 1,5 tahun. Saya sedikit banyak memahami proses pembenihan sampai panen bahkan sampai bikin olahan lele.

Jenis lele yang saya budidayakan adalah lele sangkuriang, salah satu jenis yang paling banyak diternakan dan dijual di pasaran.

Namanya ikan (makhluk hidup) dalam kolam, harus dirawat dengan disiplin. Wajib diberi pakan 3-4 kali sehari, harus pas pula takaran pakannya. Juga cara ngasih makannya, tidak sembarangan. Kalo terlalu banyak dilempar dalam satu lemparan, lama-kelamaan pakan lele (pelet) akan kehilangan daya apung. Kalo tenggelam akan menjadi racun bagi lele.

Airnya harus rutin dicek. Kalo sudah bau dan banyak endapannya harus dibuang separuh kolam lalu diisi separuh lagi. Kalo tidak, satu kolam bisa mati masal.

----

Ceritanya, di asrama saya juga ada kolam lele. semuanya normal kecuali umurnya. Lele di sini usianya sudah lebih dari 9 bulan, tapi lelenya masih kecil-kecil. Jika ukuran lele siap panen dalam waktu 3 bulan adalah 10 ekor per kilo, lele di kolam ini hanya 25-30 ekor per kilo.

Apa problemnya?

Ternyata, tidak ada yang rutin merawat lele-lele ini. Pemberian pelet hanya 1x sehari, itupun kalo ingat. Kalo pakan habis bisa 1 pekan puasa lele satu kolam.

Poinnya adalah, lele ini usianya tua, 4 kali masa pembesaran, tapi karena jarang diberi pakan, ia hanya 1/3 dari ukuran normal.

Ini sindiran keras bagi saya dan karir podcast saya.

Saya mulai produksi podcast pertama Januari 2019. Sekarang sudah hampir 2 tahun (saat tulisan ini dipublish sudah lebih dari 2 tahun). Namun, hasilnya masih segitu-gitu aja dengan kualitas yang gitu-gitu aja.

Juga karir kepenulisan saya.

Persis dengan lele di asrama kami.

Kedepannya, saya tidak ingin punya kolam lele yang terbengkalai perawatannya.

Yang Terbaik Di Tahun 2020

Tulisan ini sudah terlambat sekali. Namun, dari pada tenggelam di draft. Selamat membaca!

Setiap tahun adalah spesial. Hanya terjadi sekali dalam hidup. Hanya sekali saja saat sebuah suasana, kondisi, kemampuan diri dan kedewasaan seseorang menemui satu tahun yang tidak akan mungkin terulang persis dikemudian hari.

Setiap tahun pasti beda. Minimal rasanya. Saat SD, naik kelas mungkin terasa bahagia, sedangkan di SMA tidak (sebahagia ketika SD). Usia bertambah, sudut pandang bergeser dan pengalaman-pengalaman baru. Selalu luar biasa.

2020 spesial sekali. Saya sudah tidak SMA lagi, sudah 18 tahun, juga ada pandemi.

Semakin lebar dan agak semakin tajam. Saya semakin banyak explore hal baru. Juga semakin mempertajam beberapa hal yang sejak lama saya minati.

Yang melebar: saya akhirnya belajar yang SMA umumnya pelajari. Matematika, Sejarah, Sosiologi, Geografi. Cukup sulit ternyata dan saya belum terbiasa. Sampai sekarang (September 2020) saya belum menyelesaikan materi-materi itu.

Yang menajam: organizing skill saya. Buat kegiatan online pertama kali, berjuang untuk fundraising backpacker ke luar negeri. Menulis lebih sering dan beragam. Dan masih banyak lagi.

Begitu banyak hal baik yang terjadi: saya menjadi ketua pelaksana sebuah kegiatan sekolah yang saya tidak bisa hadir. Jadilah itu event remote pertama saya; Pertama kali pesan barang ke vendor dengan jumlah cukup besar dan lobi harga sangat serius. Kemudian saya bingung bayar sisa tagihannya; Pertama kali berada di rumah (saya ketika menulis ini di asrama) dalam waktu 6 bulan; Akhirnya main twitter (seru juga ternyata); Beli domain blog saya ini (faruqrakhmat.web.id); Ketemu banyak obrolan seru (podcast dan audio podcast); Ikutan MOOC untuk pertama kalinya dan terdampar di pondok ini (lagi).

Moment Terbaik

Ketika harus memilih satu moment terbaik dalam setahun, menurut saya adalah ketika saya lulus SMM bulan juni lalu.

Walaupun tanpa wisuda, tanpa foto-foto, tanpa semua yang terbayang di kepala saya; toga, presentasi untuk penutupan sekolah dan backpacker ke luar negeri. Meski tanpa itu semua, lulus SMM adalah hal terbaik.

Lalu apa yang membuatnya terbaik?

Yang membuat spesial adalah hari terakhir di saya SMM. Para siswa dipanggil ke sekolah, setelah 2 bulan libur pandemi. Kami diminta mengisi 2 lembar Formulir Lesson Learn. 

Sebenarnya, hampir setiap pekan kami mengisi form ini, untuk evaluasi pekanan dan projects kami. Yang membuat berbeda, form kali ini diisi untuk mengevaluasi hasil 3 tahun kami di SMM. Bagaimana hasil akhir project-project kami. Tuntas atau tidak. Kualitas outputnya baik atau tidak?

Bagi saya ini berat. 

Ada 2 tabel. Sebelah kiri adalah hasil 7 teratas dari Talent Mapping siswa. Sebelah kanan tabel kosong yang harus diisi; apakah talent kami terkonfirmasi lewat project atau tidak. Memenuhi syarat 4E atau belum.

Talent Mapping adalah sebuah tool untuk mengetahui bakat dan potensi dengan mengisi asassment. Sudah pernah kami lakukan di kelas 10. 

Ini adalah "ujian kelulusannya". Ujian paling sulit. Self reflection. Nantinya akan dicocokan dengan milik coach kami.

Bagi saya yang tidak fokus dalam satu bidang, sulit untuk bilang 'no' ke peluang yang ada atau ke rasa penasaran yang muncul. Positifnya, rasa penasaran saya terpuaskan dan lebih tahu banyak hal. Minusnya, saya kehilangan sejumlah waktu untuk memperdalam apa yang sudah saya minati sebelumnya.

Di lembar itu ada 7 karakter teratas saya dari hasil assesment. Karakter-karakter ini, serasa dan sepengetahuan saya, terkonfirmasi semua. Namun, belum ada yang sangat ahli dan memberi keuntungan besar bagi saya, terutama dalam finansial.

Berbeda dengan beberapa teman kami yang fokus di satu atau dua hal, mereka bisa merasakan impact finansialnya. Sampai ke E yang keempat yaitu earn.

Konfirmasi Bakat

Kemudian, setelah mengisi dan diskusi sesama murid, kami menghadap guru sekaligus kepala SMM, Bu Tina, satu per satu. Ini, sekali lagi biasa kami lakukan, karena tiap coaching pun begitu.

Namun, karena ini adalah coaching formal terakhir, rasanya beda. Apa yang dibicarakan berbeda. Bagi saya, inilah yang menyebabkan hari ini menjadi hari terbaik tahun 2020.

Coach kami memberikan wejangan-wejangan yang belum pernah kami dengar. Bagaimana setelah lulus, tips di kuliah atau di dunia wirausaha, kehidupan percintaan dan sebagainya.

Karena pamungkas, sampai yang tabu bagi saya ada di pembicaraan ini. Well, the best day emang gini.

Terimakasih sudah membaca sampai akhir!

Awal Dewasa dan Merantau

 Transisi dari masa kecil ke dewasa itu sulit. Meninggalkan kenyamanan dan rasa aman yang ada itu juga sulit. Sebagian orang menyebut masa ini remaja. Namun, saja lebih nyaman dengan masa awal dewasa. Saya definisikan: masa awal dewasa dari SMA--bahkan bisa lebih cepat--sampai sudah dewasa. Saya belum bisa menentukan kapan usia dewasa. Paling tidak saat saya menulis ini.

Namanya peralihan, pasti banyak kendala yang bakal dihadapi. Semoga kita semua setuju bahwa beralih dari orang satu ke yang lainnya itu sulit. Dalam bidang percintaan maupun lainnya. Kendalanya: adaptasi, ketidakcocokan dan belum terbiasa dengan semua yang baru dari sosok orang baru.

Sama dengan itu, transisi dari kecil ke dewasa juga banyak sekali masalahnya. Yang paling besar menurut saya adalah adanya perasaan yang beda antara keduanya. Menjadi kecil, umumnya, akan dijaga, disayang, dicintai, dibiayai, bahkan disuapi. Ketika dewasa, satu per satu lepas. Bahkan ada perasaan ini jauh dari mereka yang dulu memberikan masa kecil yang baik.

Keadaan sosial juga akan berubah, sedikit demi sedikit, menuju ke keadaan yang rumit dan kompleks. Waktu kecil, teman satu gang adalah yang terbaik. SMP dan SMA, teman sekelas atau seorganisasi bisa menjadi sahabat. Kuliah apa lagi, bisa jadi satu pertemuan random (ketemu di konser atau medsos misalnya) dengan seorang bisa membuat pertemanan yang akrab.

Jaringan akan sedikit banyak meluas. Gabung di organisasi, pertemuan dengan satu kelompok atau antar kampus. Diskusi dan debat, semua kegiatan proker dan penyelesaian masalah internal.

Tentu dengan lebarnya pertemanan yang ada, gesekan antaranya akan timbul. Marah, salah persepsi, adu mulut dan dinamika pertemanan lainnya.

Selain itu, saat beranjak dewasa, seorang akan dihadapkan dengan berbagai pilihan. Terlalu banyak yang bisa diambil, yang kadang, satu dan lainnya terlalu menggiurkan untuk dipilih.

Membuat keputusan adalah hal biasa dalam kehidupan dewasa. Namun bagi awal dewasa, itu sangat berat. Seberat mengambil ekskul yang beda dengan sahabat kita, juga sama beratnya dengan belajar sampai larut demi perguruan tinggi yang diimpikan, atau meninggalkan liburan keluarga karena ada project kampus.



Sumber : medium.com/Tribun Pontianak


Tentu, ada kalimat sederhana yang bisa mewakili awal dewasa. Semua adalah berproses. Cukup sederhana sampai saya sendiri kewalahan dalam berproses. Dalam masa awal dewasa ini.

Yang saya rasakan, berproses itu melelahkan. Semua pilihan yang saya ambil terasa capek ketika dikerjakan dan berusaha bertanggungjawab dengannya.

---saya benar-benar berhenti sejenak ketika menuliskan ini--

Pilihan saya jauh dari orangtua, pilihan saya sekolah, kemudian yang sedang berjalan ini. 

Saya pernah berpikir untuk selesai dan menyerah, Ketika di tengah-tengah perjalan dari satu keputusan saya. Karena saking beratnya apa yang saya rasakan. Namun nyatanya, berkat kemudahan yang Allah berikan dan kesabaran saya, terlalui dengan baik. Setidaknya tuntas.

Saya pernah bertanya, kemudian merenung, apa output dari proses ini?.

Kata orang dan saya sampai saat ini membenarkan, adalah untuk menjadi mandiri.

Dewasa sama dengan kita mandiri. Semua kebutuhan dan keinginan adalah tanggung jawab kita dan dewasa adalah waktu saat kita bisa mencukupinya dengan upaya kita. Walaupun, bisa jadi, kita masih ada di bawah asuhan orangtua namun kemandirian itu hadir, maka selamat anda telah dewasa.

Salah satu yang menurut saya pribadi bisa mengakselerasi kedewasaan adalah dengan cara merantau. Ini kebetulan saya lalukan 6 tahun lalu saat saya berangkat SMP di kota seberang. Alhamdulillah, saya merasa kemandirian itu mulai muncul. Setikdanya saya bisa bertahan dengan semua keputusan saya.

Merantau akan efektif jika di tempat rantau kita lepas dari bayang-bayang dan back-up orangtua. Namun, akan sama saja jikalau merantau dan tetap sama seperti di rumah.

Rantau yang baik membuat perantau mandiri, terkadang gelisah dengan besok makan apa karena akhir bulan, atau, tak sengaja merusak fasilitas sekolah yang harus segera diganti tanpa sepengetahuan orangtua.

Rantau yang baik membuat luar kamar kos-kosan menjadi tempat kita berkiprah, membantu teman atau aktif di organisasi atau project kampus. Namun membuat dalam kos-kosan dan ranjang menjadi tempat capek dan tangis kita berlabuh.

Rantau yang baik, menjadikan seseorang dapat keluar sebagai orang yang dewasa dan mandiri bersamaan dengan kelulusan kuliahnya. Juga membuat seseorang siap masuk ke sesi berikutnya dalam hidup, dunia nyata.

Bagi yang belum sempat merantau, ada kabar baik untuk kalian. Tidak harus merantau untuk dapat mendiri. Bahkan banyak yang sampai lulus kuliah tetap satu rumah dengan orangtua ketika ia kerja ataupun berkeluarga mandiri itu muncul dengan sendirinya.

Karena rumah juga bisa diatur sebagai latihan pendidikan kemandirian seseorang.

Akhir kata, saya hanya ingin menumpahkan beberapa kegelisanan saya. Terimakasih sudah membaca.

Gabyear Bukan Pengangguran

Gabyear Bukan Pengangguran

Lebih dari sebulan beberapa perguruan tinggi mengumumkan hasil kelulusan mahasiswa baru. Dari sekian jalur yang disediakan, banyak yang lolos, lebih banyak lagi yang tidak—menurut hitung manual jumlah kelulusan SMA sederajat dibanding jumlah mahasiswa baru tahun lalu. Ada juga perguruan tinggi yang menampung sisa-sisa calon mahasiswa yang belum dapat tempat berlabuh. Namun masih ada juga—kali ini takut bilang lebih banyak—yang mengambil jalan gabyear—berhenti sekolah formal. Ini juga jalan yang saya ambil.

Transisi sebagai pelajar ke gabyear—buat saya—praktis tidak sulit. Berhubung sekolah lama juga menerapkan sistem homeschooling yang lebih leluasa jam pelajarannya.

Yang terasa jomplang adalah perasaan saya, karena ketika masih bergelar pelajar rasanya aman-aman saja. Jika ditanya tetangga masih bisa jawab asal sekolah saya. Namun ketika ditanya, "Masih sekolah?" atau "Kuliah di mana?" terus terang agak bingung jelasinnya dan batin saya terguncang sedikit—malu.

Kemudian saat kemarin sering di Mbah dan bertemu dengan tetangga depan tak jarang mendengar kalimat "Kok ndak sekolah lagi?", "Kok di sawah terus, ngerjain apa, toh?".

Hati rasanya sedikit kesenggol.

Saya juga merasa menjalani aktivitas—selain belajar—seperti tidak produktif, atau tidak seproduktif dulu ketika mengejar materi dan tryout. Melakukan kegiatan domestik rumah tangga juga terbesit, "Nih aku di rumah ngapain? kerjanya cuma cuci-nyapu-masak".

Apalagi ketika saya bosan dan membuka status WhatsApp yang keluar teman-teman saya share kegiatan kuliah online mereka, atau sekadar buku-buku perkuliahan baru yang tebel-tebel itu. Rasanya agak minder.

Kalo saya baca-baca pengalaman gabyear di Twitter, mereka rata-rata sama, dapat tekanan yang berat, dianggap menyia-nyiakan waktu. Mereka juga sering dicibir oleh tetangga, saudara-saudara yang kuliah, om-tante yang—mencoba—peduli dengan hidup kita. Sumpek rasanya, kata mereka. Apalagi di awal-awal.

Fenomena gabyear ini di Indonesia masih dianggap demikian, sedang di beberapa negara maju, gabyear menjadi wajar. Nggak salah.

Menurut Allan Schneitz, penggagas konsep Dream School di Finland, "Lulusan SMA di sini tidak harus langsung kuliah". Mereka yang baru selesai jenjang SMA boleh untuk berhenti pendidikan formal untuk berfikir sejenak apakah perlu kuliah atau tidak. Lanjutnya, "Kuliah atau tidak, mereka akan terus belajar".

Gabyear tidak sama dengan pengangguran. Ada orang yang lulus lalu menganggur tapi konsep gabyear bukan tidak melakukan kegiatan sama sekali. Menurut saya—bisa jadi ini pembelaan semata—kita harus mengganggap setara yang langsung kuliah dan yang ambil jeda. Sama-sama masih belajar, sama-sama berjuang, sama-sama pusing, dan tentunya sama-sama produktif.

Gabyear tentu bukan cuma mengambil libur panjang untuk menghindari belajar. Justru jeda waktu dipakai untuk berfikir mau lanjut belajar apalagi dan harus lanjut belajar atau tidak.

Saya menyarankan bagi kawan yang ambil jeda harus sama sibuknya dengan yang kuliah. Kita sebaiknya punya jadwal sendiri, target pribadi, kalo perlu buat silabus satu semester mau mencapai apa saja. Kalo perlu juga, kita minta kawan untuk menilai hasil gabyear kita.

Berkuliah merupakan hal baik tidak mengambil kuliah sekarang juga baik. Yang sama sekali buruk adalah luntang-lantung tanpa tujuan tanpa arah di jalanan kehidupan. Pilihan jalan tak terbatas bos, tapi jangan sampai lupa hidup ada batasnya.

--

Terimakasih sudah membaca, silakan tinggalkan jejak di komentar atau hubungi penulis di email tertera.

Belajar Dari Cara Burung Berkomunikasi

Sebulan lebih saya di sawah, banyak hal yang bisa saya pelajari dari sini. Pertaniannya, problem solvenya, interaksi dengan petani lainnya dan masih banyak lagi.

Di tulisan ini, saya ingin berbagi satu insight menarik dari pekerjaan saya di sawah, mengusir burung. Tugas ini dinamakan "tunggu" oleh penduduk sekitar. Sesuai namanya, jobdesknya adalah menunggu dan mengusir burung Pipit yang datang dan hendak memakan padi.

Tree sparrow | The Wildlife Trusts
Burung Gereja Sumber: Wildlifetrusts.org
Kata orang-orang di sawah, burung punya cara ngobrol dan koordinasinya sendiri. Saya melihat burung ini tidak sembarang dalam makan padi. Mereka punya strategi.

Burung pipit selalu terbang bersama kawanannya. Mereka berangkat saat matahari terbit dan pulang ketika tenggelam. Mereka punya koordinator (saya yakin ada!) yang membagi tugas sebagai berikut.

Tim Survei. Tim Penorobos dan terbagi menjadi beberapa tim kecil lainnya.

Tim survei bertugas di awal, mereka mencari lahan padi yang mulai berbuah di sekitaran sarang mereka. Kadang tim ini bisa terbang lintas desa dan kecamatan.

Tugas lainnya dari tim survei adalah mencicipi padi pertama kali. Karena mereka akan enggan makan di padi dengan treatment tertentu.

Tim penerobos tugasnya saat eksekusi. Terdiri dari 1 atau 2 burung saja. Mereka bertugas mencari celah dan masuk untuk bertengger di orang-orangan sawah atau tempat tinggi lainnya. 

Tim penerobos mengorbankan dirinya untuk tidak makan di awal, tapi mereka memberikan kode bahwa daerah itu siap untuk diserang, lalu makan bersama-sama.

Beberapa tim lainnya bertugas di penyerangan. Awalnya mereka akan berkumpul. Namun ketika diusir mereka akan berpencar dalam jumlah puluhan. Mereka mengamati padi dari kejauhan, lalu terbang rendah perlahan dan happ, satu kawanan lolos dan memakan padi.

Begitu terus hingga saya sendiri capek menghadapi mereka. Ahahah

Merupakan sunnatullah bahwa burung-burung memiliki insting untuk mencari makan. mereka juga dibekali kemampuan komunikasi sederhana yang "cukup" untuk membuat sepanjang hidupnya atau paling tidak mereka pulang dalam keadaan kenyang.

Orang yang Setengah-Setengah

Saya suka eksplorasi banyak hal. Teknologi, kesusastraan, pertanian, komunikasi, sejarah dan sebagainya. Namun ada 1 hal kelemahan saya di semua bidang itu, saya dangkal pemahamannya di semua bidang yang saya sukai.

Ini menjadi problem pribadi saya. Ketika mulai mencoba sesuatu pasti akan ada waktunya saya lepaskan. Saat saya berada di posisi semangat tertinggi, saya yakin akan turun dan hilang dari radar pikiran saya.

Saya generalis. Tepatnya, tidak punya keahlian yang bisa saya banggakan. Saya terlalu fokus ke banyak hal sehingga saya tidak mampu sempurna di salah satunya. Setidaknya sampai hari ini.

Ketika saya menulis, saya rasa hasil ketikan saya masih jauh dari layak publish. Ketika saya merekam podcast, komposisi suara serta perbincangannya masih belum melewati standar saya. Ketika membuat event atau project, saya sering tidak puas dengan hasilnya.

Saya tahu solusinya, cari 1 atau 2 yang ingin ditekuni lalu melejitlah di sana. Terdengar mudah bukan?

Atau jawaban lainnya, coba temukan "why" dari yang saya lakukan.

Tidak. Saya sedang berproses. Pertumbuhan itu memang seperti ini. Seperti semangka yang ketika umur 1 bulan kadang mandeg atau melipat daunnya. Begitu alasan saya dalam hati.

Seperti banyak tulisan saya yang tak berujung dan berkesimpulan, saya akan biarkan anda tetap bingung dan memikirkan jawabannya. 

Luka Seorang Anak Kecil

Kemarin, ketika lepas salat jamaah di musala (iya, saya sudah salat di musala), saya melihat satu anak kecil yang memang sebulanan ini terlihat selalu berjamaah. Saya sering memandanginya karena lelaki kecil ini lucu, pipinya seperti oversize dan tumpeh-tumpeh.

Namun, pagi tadi saya fokus ke satu bekas luka yang ada di dekat siku kirinya. Luka yang saya bisa tebak adalah luka jatuh di jalanan saat ia berlari.

Kenapa saya bisa berasumsi secepat itu? Karena hampir semua anak kecil punya luka ini, terutama laki-laki.

Saya sendiri punya lebih dari 10 (barusan saya menghitung) luka akibat bertabrakan dengan aspal, kepentok meja, kena besi tajam, kena knalpot motor dan yang paling sering adalah luka kaki akibat main bola di lapangan cor atau paving.

Itulah luka masa kecil saya, luka yang membawa saya ke sikap kehati-hatian. Luka yang menggores dan membekas menandakan saya berpengalaman berbuat kesalahan.

Bekas lukanya banyak yang hilang namun ada yang tetap terbekas. Ada dua yang paling saya ingat. 

Satu dan yang paling mencolok bersarang di dagu saya. Ada jahitan membentuk tanda plus (+) atau kadang dikatakan tanda salib. Ini luka, yang kata keluarga, terbentuk ketika saya berlarian dan jatuh di pinggir jembatan. Entah bagaimana posisinya, beton jembatan dahulu menyapa dagu dan akhirnya bocor. Terpaksa dagu mulus saya berbekas jahitan demi menghilangkan pendarahan dan menyembuhkan saya.

Yang kedua, saya ingat betul. Ketika kelas 3 SD dan sedang ada perbaikan jembatan. Iya, lagi-lagi jembatan. Kali ini jembatan di dekat rumah kami harus diperbaiki karena sudah bapuk.

Setelah dibongkar beton dan rangka besinya, ada tambahan besi yang harus dibeli. Saya ikut bapak untuk beli ke toko rosok. Saya masuk dan sambil menunggu bapak transaksi besi bekas, saya lihat-lihat barang-barang yang ada di toko tersebut.

Saya tertarik pada satu bongkah besi rangkaian. Saya dekati. Namun sayang, salah satu ujungnya yang tajam menerpa lutut kanan saya. Sreeek. Luka kecil tepat di atas tempurung lutut dan mengeluarkan darah yang cukup untuk membuat saya meraung kesakitan.

Cerita itu masih saya kenang dan bekas lukanya masih tersimpan. 10 tahun tidak mampu memudarkan bekas luka ini.

Anyway, setiap anak kecil punya luka yang membentuk kepribadiannya, kehati-hatiannya, keagresifannya dan banyak tingkah dan sifat lainnya yang terbawa sampai dewasa.