Langsung ke konten utama

Postingan

Penting Ndak Untuk Berkuliah?


Kalo di dunia kerja akan belajar hal baru lagi, ngapain kuliah?

Tega kamu buang duit keluarga +- 20 jt per tahun?

Jika perbulan karyawan dapat 1,2-1,5 juta, kenapa tidak kerja saja?

Katanya mau meningkatkan potensi, kenapa gak ngambil kursus peminatan?


Setahun lalu aku berfikir apa pentingnya kuliah? Toh bakal kerja juga pada ujungnya? Ditambah lingkungan di sekitarku waktu itu adalah orang-orang yang sudah lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan. Maka pertanyaan-pertanyaan mengenai perlu-tidaknya kuliah sempat mampir lama di pikiranku.

Fakta bahwa jika uang kuliah dipakai untuk usaha maka usaha yang dibangun akan lebih cepat berkembang dan menghasilkan profit., membuat aku ingin langsung ke dunia usaha. Aku sempat intensif mendalami peluang usaha tanaman Porang. Dengan modal menyewa beberapa ribu meter lahan dan ditanami porang, dirawat hingga dua tahun, kemudian panen akan mendapatkan keuntungan yang lebih nyata dan cepat.

Itu yang sederhana. Atau memulai usaha-usaha lainnya. 

Uang besar modal kuliah bakal bisa mendanai ongkos belajar dalam praktik usaha, bukan? Beli bahan baku atau barang dagangan, sewa tempat atau buat website, biaya operasional akan bisa tercover oleh uang tersebut.

Apalagi jika aku membuka usaha, aku masih akan tetap belajar, leaning by doing, ikutan komunitas, ikut seminar dan sebagainya.

 Lalu buat apa kuliah?

Cerita dari beberapa teman yang sudah bekerja di pabrik ataupun menjaga usaha makanan, mereka mengantongi minimal 1 juta hingga 1,5 juta dengan bekal ijazah SMA atau SMK mereka. Betapa tidak tergiurnya aku saat itu.

Lalu buat apa kuliah? Masih relevankah?

Kuliah Melatih Skill Hidup dan Skill Akademik

Aku menemukan jawaban ini dari para mentorku baik di sekolah maupun luar sekolah, dari berbagai bidang: dosen, wirausaha, freelance, wiraswasta, dan ASN.

Aku simpulkan begini, kegunaan kuliah itu melatih otak dan otot kita dalam dua hal, skill hidup dan skill akademik.

Pertama, skill hidup (lifeskil) sesuai namanya adalah kemampuan-kemampuan penting untuk meraih hidup yang aman dan nyaman. Secara umum kemampuan ini seperti, berkomunikasi dengan baik, bernegosisasi, berorganisasi, mengelola waktu, dan seterusnya.

Kemampuan ‘sepele’ lainnya terkait lifeskill yang juga penting antara lain, mengurus kesehatan sendiri, pergi ke bank, ke pasar, mengurus dokumen (KTP, Passport, dll), berkunjung ke pak rt, dan seterusnya.

Kabar bukurknya, daftar kemampuan-kemampuan ini harus dilatih agar terbiasa melakukannya. Tidak bisa serta merta keluar, sak det sak nyet, harus terus dilatih. Tidak bisa muncul dengan sendirinya, tidak automatis hadir jika dibutuhkan. Kata guruku, harus dikondisikan dan dicoba satu-satu.

Kedua, skill akademik yaitu kemampuan yang berhubungan dengan perkuliahan itu sendiri. Kemampuan ini adalah membaca jurnal, menyimpulkan, meriset, mengkritisi sebuah pernyataan, menulis laporan, dan sebagainya.

Kemampuan ini juga seperti memastikan tugas dikerjakan dan dikumpulkan, kemapuan non teknis mengenai komputer dan software, mencari referensi, dan seterusnya.

Menariknya, di dunia pekerjaan kemampuan hidup dan akademik akan sangat kepake. Meskipun subjek yang dipelajari berbeda, skillset yang digunakan nggak akan jauh berbeda.

Maka tidak haran banyak perusahaan besar di negeri ini yang masih mensyaratkan lulusan sarjana sebagai prasyarat mendaftar kerja. Yang mereka cari bukan apa yang ada di kepala, tetapi lebih ke skill set yang sudah terbangun selama kuliah. 

Kata mentorku, untuk ngajari kerja itu mudah. Yang sulit ngajari kerja keras, push limit, ngejar target dan seterusnya.

Dengan Berkuliah, Potensimu Akan Melejit

Jika semasa SMA siswa sudah memiliki ketertarikan ke suatu bidang, di bangku perkuliahan minat itu berpotensi “jadi”. Minat akan menjadi piawai dan ahli.

Kenapa aku bilang berpotensi, di universitas ada banyak sekali UKM yang beragam sekali. Di Kampus kami, dari mulai debat, pecinta alam, menulis, olahraga sampai beladiri ada.

Kalau pun tidak didapatkan di kuliah, di sekitaran kampus ada banyak komunitas yang sesuai minat kita.

Tentu PRnya adalah menemukan tempat berkembang yang suportif. Menemukannya perlu waktu dan belum tentu ketemu yang ideal sekali. Namun, namanya sudah dalam wadah yang disatukan minat yang sama, akan mudah untuk maju.

Sebagai pembanding, jika sudah menemukan minat dan tidak berkuliah, seorang masih bisa mendapatkan pengembangan minat di luar sekolah. Namun, harus lebih effort dalam menemukan informasi di sosial media atau di forum-forum minat terkait.

Namun, perbedaan yang jelas sekali adalah penghargaan yang akan didapatkan di dalam kampus akan lebih besar. Ini pendapat pribadiku.

Kedua, potensi pendanaan dan pendampingan di kampus itu gede. Istilahnnya bakal diongkosi kalo mau lomba atau akses modal bagi usaha mahasiswa

Ketiga, jaringan di kampus yang memiliki minat serupa dan berhasil hidup dari minatnya tentu akan lebih luas ketimbang yang tidak memilih masuk ke kampus.

Jadi Berkuliah Tetap Penting

Secara umum sangat penting, terutama yang butuh mengasah life skill dan akademik skill di ranah formal, lebih khusus bagi orang yang menginginkan pekerjaan di sektor formal. Di Indonesia selembar ijazah itu masih dihargai lebih. Di masyarakat juga begitu, yang berpendidikan punya tempat yang lebih tinggi ketimbang yang tidak.

Namun, tidak bisa dipungkiri tidak semua orang butuh kuliah (formal). Menurutku, kebutuhan kuliah ini akan tidak relevan bagi para pembelajar jalanan yang subjek ilmunya belum tersedia di kampus.

Baik Kuliah Maupun Tidak, Belajar Adalah Kewajiban

Mau di dalam kampus, mau di luar kampus, di pabrik, di pasar, di toko, di jalanan sekalipun, belajar adalah kewajiban bagi yang orang ingin bertumbuh.

Belajar di luar kampus itu bagus karena akan bertemu dengan praktisi dan dihadapkan dengan pengalaman yang riil terutama bagi pelaku usaha dan korporasi.

Apalagi belajar di dalam kampus, selain menyiapkan otak dan otot pengetahuan, peluang "maju" di kampus akan lebih besar bila mahasiswa mampu memanfaatkan tiga-lima tahun belajarnya dengan baik.

NB: Agar seimbang, perlu sekiranya aku menulis apa-apa yang tidak kampus ajarkan, tetapi dibutuhkan sekali di kehidupan pascakampus. Soon insyaAllah.


Kamu Sudah Memilih Unnes dan Unnes Sudah Memilihmu

Kata Kak Fauzan, ini memang bulan keberuntungan. Juli kali ini benar-benar menjadi keberuntungan bagi peserta seleksi ujian masuk PTN/S karena hampir semua pengumuman kelulusan ada di bulan ini.

Aku, seperti yang sebagian pembaca tahu, sudah dapat satu kursi di Universitas Negeri Semarang. Alhamdulillah. Dapat dari jalur "paling murah" yaitu SBMPTN. Dapat dengan nilai sangat memuaskan--bagi diriku sendiri nilai kepala 6 besar itu tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Aku gagal sekali di Juli ini. Sedih rasanya, ditolak kedua kalinya oleh "cinta pertama". Meskipun aku paham betul bahwa usahaku yang kedua ini tidak semaksimal sebelumnya. Jauh dari kata cukup dalam persiapannya. Alhasil, penolakan yang sungguh tidak aku prediksi.

Itu tidak pahit amat. Yang lebih pahit adalah ketika mendengar kanan dan kiri, orang yang berinteraksi dengan aku baik di SMP SMA maupun di sosial media, diterima di kampus yang lebih mentereng. Jujur saja sedih, dalam sekali. Sampai aku menulis ini aku masih berusaha menghibur diri dan menerima keadaan. Salah satu caranya yang efektif adalah ucapan selamat kepada mereka. Hei Kamu Hebat...

Kalo melihat torehan nilai UTBK--aku berharap ini terakhir aku menulis atau bercerita ke orang lain, nilaiku sangat amat cukup untuk masuk di jurusan yang sama di tempat "cinta pertamaku". Perbandingannya aku dengar sendiri dari kawan yang lolos di sana yang memiliki nilai jauh di bawahku. Atau tempat yang aku tolak untuk mendaftar karena bosan berada di sekitarannya. Belakangan aku tahu, jurusan yang sama di tempat itu merupakan jurusan terbaik sekaligus terberat se-Indonesia. Aku ber-ahh panjang karena dua hal: untung tidak masuk ke sana dan heh, seharusnya aku di sana.

Aku takut tulisan ini cuma penyesalan-penyesalan belaka, tapi sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan setidaknya untuk mengikat perkataan ini di kepalaku.

Yang mengucapkan adalah mentor kami di CC, "Ingat bahwa kalian di sini karena kalian sudah memilih kami dan sebaliknya kami sudah memilih kalian"

Deg..
Aku, bila teringat kalimat ini, langsung pudar menyesalku dan menebal rasa syukurku. Karena, Hei kamu sudah memilihnya dengan pelbagai pertimbangan, bukan? Lalu kenapa saat kamu dipilih olehnya kamu tidak terima hanya karena silau dengan glamornya tetangga sebelah dan tetangga jauh?

Ahh. Mungkin aku harus terbiasa dewasa karena memang sudah umurnya. Terlebih karena tidak ada yang bisa diulangi dari waktu. Yang terjadi benar-benar sudah terjadi dan takkan ditarik mundur.

Hi, Maaf Ya.

Aku sedang berusaha konsisten menulis (lagi). Terhitung hari ini, aku menjalankan hari ke 40 menantang diri menulis catatan harian. Aku mengunggahnya di blog yang tidak akan aku bagikan sekarang (atau mungkin sampai kapan pun, entah). Nama blognya aku buat rumit agar aku tidak mengingatnya. 

Hari yang cerah sekali. Kau tahu, hari ini ada ribuan kabar baik yang aku terima. Aku senang sekali membacanya. Bahkan, aku meninggalkan pesan dengan 'like' di tweetnya.

Btw, jika kau menemukan tulisan ini dari Instagram, aku masih hiatus dari akun itu. Aku cukup aktif di Twitter karena beberapa alasan: ruang penyimpanan hape terbatas, malas melihat update, dan memilih hidup lebih tenang di Twitter.

Banyak yang ingin aku ceritakan karena aku kehilangan tempat bercerita. Sementara semua ceritaku aku simpan di blog rahasiaku.

Begitu saja, semoga ada ide untuk menulis lagi di sini.

Hari ke-10 : Cerita Cintaku

Aku ingin menceritakannya, tapi aku benar-benar malu.

Kalo kagum boleh disebut cinta, mungkin hati ini telah mencinta 9-10 gadis sepanjang ia berdetak.

Kalo boleh perasaan ini disebut cinta, mungkin hanya 2-3 saja yang sempat diungkapkan kepada gadis-gadis itu.

Kalo jawaban mereka itu juga bagian dari cinta, maka belum ada yang menjawabnya.

Ya, aku belum menemukan cinta.

Itulah mengapa aku malu menceritakannya

Hari ke-9 : Obrolan Sunyi Di Jalan Pulang.

Sore itu jalanan padat, khas waktu pulang kerja. Tak cuma pekerja, pelajar dan orang yang memiliki urusan di kota akan pulang ke rumahnya.

Bus Kota tak jauh berbeda dengan jalannya. Para penumpang berebut tempat duduk saat pintu bus terbuka. Terutama pekerja, mereka ingin tidur sembari menunggu dipanggil nama halte tujuan mereka.

Penumpang yang berebut beragam sekali. Pekerja dengan celana bahan hingga pekerja dengan sandal jepit kusam. Pelajar SD sampai mahasiswa tak berseragam hingga anak kecil yang ikut serta berekreasi orang tuanya.

Setelah sebuah tempat transit yang sesak, para penumpang masuk ke dalam bus, melaju bersama. 

Seperti yang diketahui, tidak semua orang dapat tempat duduk, akan ada lebih banyak pasang kaki yang tegak menahan tubuh yang (mungkin) kelelahan.

Nyaris tidak ada suara, kecuali satu dua obrolan teman sebaya, itupun sering ditegur petugas bus karena mengganggu. Lagu khas Jawa yang terdengar hanya di baris depan dan belakang atau teriakan petugas bis ketika akan sampai di halte berikutnya.

Namun, aku melihat mata mereka saling berbicara satu sama lain. "Obrolan" sore itu dibuka dengan mata seorang anak kecil yang pulang dari pusat perbelanjaan, mungkin sepatu yang dipakainya adalah sepatu yang baru saja dibeli. Matanya seolah berkata, "Duniaku indah sekali!".

Berjarak tak jauh dari sana, ada pelajar SMA. Matanya letih sekali, seperti seharian telah digunakan untuk melihat soal-soal. Namun nuraninya masih kuat untuk menahan diri mengambil tempat duduk yang barusan kosong untuk diberikan ke bapak tua bercelana bahan. Mata letihnya memandang sekitar, berkata dalam sunyi, "Kurang 5 orang yang butuh kursi, kemudian aku akan bergegas mengambilnya".

Ada bapak dengan celana bahan seadanya dan sandal jepit, membawa ransel ukuran besar yang tidak terlalu penuh, mungkin berisi beberapa alat pertukangan. Matanya sayu, berkantong mata tebal hasil begadang bertahun-tahun untuk jaga malam setelah kerja seharian atau sekadar mendengarkan istri dan anaknya bercerita. Matanya memandang dalam ke anak kecil yang ceria itu, "Duduk di sana, nak. Duduklah hingga tulangmu kuat untuk menghadapi hidup. Biar bapakmu bangga kelak". 

Aku sangat membaca sorotan mata bapak tua itu dan hampir semua orang yang menunggu halte tujuannya.

Hari Ke-8 : Tempat Yang Akhirnya Dikunjungi Lagi

Kalo ada 1 kota yang aku suka tapi selama pandemi absen kukunjungi tentu itu Yogyakarta. Kalo ada tempat yang aku ingin kunjungi, tentu adalah Masjid Jogokariyan. Betapa rindunya aku berkunjung ke sana.

Terakhir aku berkunjung, 15 April 2019. Aku ingat betul tanggal kepulanganku dari magang. Seingat pula dengan potongan kayu yang menjadi pegangan tangga. Ruangan magang seukuran separuh lapangan bulutangkis yang berkarpet hijau dan aula luas berdinding setengah dan lainnya ditutup dengan potongan kayu bersusun sepertinya pagar yang membuat dingin angin begitu terasa. Juga membuat azan terdengar jelas.

Dua setengah tahun sudah aku meninggalkan bangunan itu dan masjidnya, Masjid Jogokariyan.

Lalu, November lalu, ditengah kegundahan hati, perasaan rindu itu muncul. Aku tak pernah serindu itu pada sebuah tempat. Apalagi sebuah masjid.

Sabtu dini hari itu pun tiba, ia datang begitu saja bersama semangat untuk pergi. Pukul 2 persis aku berangkat menuju Yogyakarta menggunakan sepeda motor.

Jalanan ramai dengan bis dan truk yang berpacu melawan malam. Tersebab malam itu pula mereka berjalan, ketimbang berlawanan dengan motor-motor yang berjalan terburu-buru di siang hari.

Waktu bergulir cepat, azan subuh terdengar sebelum aku masuk Yogyakarta, tepatnya masih di kabupaten Magelang. Aku menghentikan motor di masjid biru tepi jalan, mengambil wudu. Aku baru menyadari tanganku mati rasa. Tanganku yang telanjang menerpa angin dingin dini hari sepanjang jalan.

Seusai salat, melanjutkan perjalanan dengan tangan tak merasakan apapun. Dicubit, ditekan, tak terasa.

Aku ingat betul, tanganku mulai merasakan hangat saat segelas jahe panas kupegang dengan kedua tanganku erat-erat. Bukan untuk dimimum, karena panasnya akan membuat mulit terbakar seharian. Tapi untuk membuat tanganku mengaktifkan kembali sensor perasanya.

Jahe panas itu tersaji di angkringan depan Masjid Jogokariyan.

Batinku berteriak, bahagia sekali. Aku kembali, bukan ke rumah, tapi ke masjid ini.

Pertama kali aku ke sini, tahun 2017, kunjungan ke Yogyakarta. Datang sebelum subuh dan duduk di angkringannya.

Kedua kalinya, tahun 2017 mungkin tersisa dua atau tiga bulan, aku mengikuti salah satu kajian yang jamaahnya mengular sampai ke jalan Parangtritis.

Ketiga kalinya, tahun 2018. Berkunjung ke kantor penerbitan yang sejalan dengan Masjid Jogokaryan. Berbincang dengan mereka, yang pada akhirnya menjadi tempat magangku di tahun berikutnya.

Januari 2022, ada rasa kangen yang kembali muncul. Khususnya malam ini. Ingin rasanya kembali ke Yogyakarta, terutama Masjid Jogokariyan.

Entah kapan.

Hari Ke-7 : Bukan Memilih, Dipilih

Kembali agak 'milosofis' hahaha

--

Suatu ketika, ada undangan masuk ke notifikasimu. Sebuah kegiatan yang tidak kamu sukai. Tidak suka bukan karena apa apa, karena memang tidak akan menyenangkan bila mengadiri undangan tersebut.

Kamu bimbang. Datang dengan malas atau menolak dengan tegas karena buat apa ikut bila bukan kemauan sendiri.

Ada yang datang, berkata, "Dik, ikut saja, pasti acaranya bagus. Mungkin kamu gak suka semuanya, tapi percaya kamu bakal bawa pulang sesuatu. Percaya kakak".

Kamu bingung namun akhirnya memutuskan untuk berangkat.

Acara berjalan seperti yang kamu duga. yang tidak kamu duga adalah kesempatan baik datang menghampirimu di sana. Dekat sekali. Kamu mengambilnya.

Rasanya senang sekali, seperti dapat mimpi tanpa tertidur. Kaget. Berkata kamu, "Ini yang kucari sejak lama".

Kamu pulang, mencari seorang yang berkata ikuti saja.

"Kak, kakak benar. Aku dapat sesuatu".

"Iya, dik. Itu karena kamu tidak memilih untuk hadir, kamu dipilih, dik. Dan kamu penuhi panggilan itu, selamat".

Hari Ke-6 : Lupa Dikebawahin

Agak filosofis, padahal kebodohan hahahaha

Terjadi lagi pagi ini, seletah mencuci beras dan menakar air di tempat masak beras, kemudian dididihkan di api agar lebih cepat matang ketika masuk ke ricecooker. Kemudian ditinggal masak yang lain.

Ketika sayur dan lauk sudah setengah matang, perut sudah mulai lapar, niat hati ingin menghangatkan nasi yang sudah matang, dibuka, dan  ....

"Loh, kok belum mateng".

Aku tersadar sesuatu, "Aduh, lupa dikebawahin". 

Indikator "cook" di bawah sebenarnya sudah menyala, namun lupa menggeser tuas ke bawah yang artinya tidak ada perintah untuk memasak.

Jadilah sekarang aku menghabiskan waktu untuk menunggu sambil menggado lauk dan sayur hahahaha

--

Sering gak sih dalam aktivitas lainnya, kadang ada satu pekerjaan yang lupa "dikebawahin" sehingga menyebabkan kegagalan atau minimal waktu terbuang?

Rasanya sangat sering. Ada lah satu dua detail yang terlupakan justru menjadikan segalanya ambyar



Hari Ke-5 : Cara Otak Saya Bekerja

Ruangan kerja sore itu meningkat suhunya dalam arti harfiah. Menjadi sedikit lebih panas. Memang sore hari bukan waktu yang tepat untuk mengerjakan sebuah soal.

Ada tiga bagian di sift sore itu, Memora si pengingat, Lisa si pengamat dan Ekse si eksekutor.

Ada sebuah pekerjaan masuk, "Memora, segera ingat rumus ini! Rangkaian seperti ini dan itu", suara komando memberikan perintah bersama satu kertas yang berisi sebuah konsep matematika dengan contohnya. "Segera jawab soal ini dalam 60 detik dengan benar atau nilai kita akan berkurang 1 poin".

"Siap pak, sudah saya ingat" jawab Memora cepat.

"Segera kirim ke Lisa untuk ditindaklanjuti, lalu kerjakan dan kirim ke kotak jawaban" suara itu menambahkan.

Lisa melihat kertas itu, dia menilai ada yang janggal. "Tunggu-tunggu, ada yang belum saya pahami, kenapa x di sini jadi angka genap, bukankah sebelumnya ganjil, lalu mengapa ..." sangkal Lisa.

"Kamu tinggal menyerahkan ke Ekse untuk mengerjakan soal di bawahnya" bantah Memora.

Saat Lisa menyerahkannya ke Ekse, "Hei! Kerja yang betul, Lisa! Ini tidak bisa kukerjakan! Mana hasil kerjamu, hanya ada salinan dari kertas saja? Aku tidak bisa bekerja tanpa hasil analisamu!"

"Tapi Ekso, waktu hanya tersisa 40 detik" Memora mengingatkan.

"No! Kalian semua payah! Ini bukan soal waktu, aku harus mendapatkan analisanya sebelum menjawab. Hei! Kalo salah menjawab nilainya akan berkurang 1".

"Sebentar, beri waktu 20 detik!" Lisa meminta.

Lima belas detik berlalu dengan ketegangan yang sunyi. Langit-langit terasa makin panas.

Tiba-tiba komandan mengirimkan pesan, "20 detik lagi, segera selesai pekerjaan kalian, Memora, Lisa dan ... Ekse"

"Baik, pak!", kompak mereka bertiga.

Lisa menyordorkan setumpuk kertas pembahasan kepada Ekse. "Ini yang kau minta!"

Sekilas membaca, "Hei! Bodoh sekali, waktuku tidak cukup untuk membacanya, ringkas menjadi 2 paragraf, cepat!"

"Huft, kau yang minta aku menjelaskan"

"Hei! Tapi penjelasanmu terlalu rumit!"

"Baiklah, ganti "x" dengan sebuah angka genap, nanti kau akan temukan jawabannya".

"10 detik teman-teman, segera!" suara itu kembali muncul. Alarm berbunyi seperti sirine ambulan. Tensi belum turun.

"Hei! Apa maksudnya ini, tulisanmu tidak jelas" Ekse nampak kebingungan.

"Hanya itu yang diberikan oleh Memora"

"Hei Memora! Ingat betul-betul rumusnya. Waktu kita tinggal sedikit".

"Kau sudah kuberikan ingatanku yang pasti benar masih saja tidak percaya"

"Hei! Tapi ini gak ketemu jawabannya! Rumusmu mungkin keliru, Memora"

"Tidak, ini rumus yang sudah ku ingat selama ini. Selalu ku ulang"

"Hei! Aku tidak peduli berapa lama kamu ingat tapi ini tidak ada jawabannya!

"Jangan-jangan kamu salah mengeksekusi, hah! Kamu sering keliru menjumlahkan, kerjakan yang teliti".

"5 detik lagi teman-teman, ayo!"

Kotak jawaban akan segera dikirimkan, ia akan segera tertutup.

"Ekse, tolong liat sekali lagi! Pasti kerjamu yang salah". Lisa memohon.

"Hei! Kalian ini, baiklah"

"2 detik"

"Hei kalian! Lihat ke sini, bantu aku mengoreksi. Ini ada di jawaban "C" namun bisa jadi juga "D"". 

Lisa melihat dan terkaget dengan pekerjaan Eksa. "Keliru kamu, Eksa. Ini dibagi dengan 3 lalu di kali -1"

"Hei! Kenapa baru bilang sekarang".

"1 detik teman-teman"

"Cepat lempar jawabannya!" Memora tidak sabar.

Tepat sebelum kotak jawaban dikirim, Ekse melempar jawaban ke kotak.

Terjawab lah sebuah soal.

--

Hahahaha gimana dialog aneh ini? Bisa kalian baca, kan? Aku belum terbiasa menaruh percakapan di tengah narasi.

Hari Ke-4 : Motoran

Jujur lumayan sulit ngejar nulis tiap hari. Saat ini saja aku sedang nulis dan edit dua tulisan sekaligus. Saking payahnya aku dalam hal konsistensi.

Anyway, tema tulisan ini kubuat superringan biar besok nggak utang lagi. Selamat membaca!

--

Aku suka naik motor ke mana-mana. Awalnya karena keadaan memaksa demikian. Namun, akhirnya suka bahkan cinta banget motoran. Ada yang kurang kalo sehari gak naik motor. Ceeeiiilah

Lebih spesifik, aku suka motoran sendirian dengan jarak lumayan jauh. Misal dari asrama ke tempat les, sumpah itu healing banget. 

Kamu pernah nggak ancur banget pas di satu tempat, terus naik motor, terus sampai di tempat berikutnya moodnya balik 180 derajat? Aku sering banget kejadian begitu karena motoran.

Ketika aku motoran sendirian, aku bebas ngapain aja. Teriak, naik motor agak kencengan dikit, self talk dan segala hal yang sering nggak bisa dilakuin saat turun dari motor.

Pake earphone saat motoran? Sebenernya berbahaya, tapi aku cukup sering melakukannya. Aku gak mempromosikan untuk kamu motoran dan nyalain musik kenceng. Kecuali kalo lagi ngnatuk, musik kenceng jadi "temen" yang jaga mata tetep seger.

Kalo menurutku, cuma dua musuh motoran sendirian, ngantuk dan kedinginan atau  masuk angin.

Motoran itu suaranya konstan, bro! Apalagi di Semarang yang para pengunna motornya santun-santun dan jarang pakai klakson. Suara mesin yang gitu-gitu aja bikin ngantuk kalo tanpa ngelakuin hal lain.

Kedua, masuk angin dan kedinginan. Entah kenapa kalo agak jauhan dikit tubuh mulai tembus angin dan tangan rasanya dingin banget. Apalagi malem dan kecepatan di atas 50 km/jam. Alamat kedinginan kalo perjalanan jauh.

Gitu aja ya, gak ada hikmah yang bisa diambil dari tulisan ini (emang yang lain ada?)