Langsung ke konten utama

Postingan

Mengapa Masuk Jurusan Sejarah?

Sejak awal memilih jurusan ini saat pendaftaran SBMPTN hingga kemarin hadir di diskusi dengan kating, aku memikirkan, kenapa aku mau-maunya masuk ke jurusan ini?

Alasan di bulan Januari: karena aku pernah baca textbook tebel karya Peter Carey dan merasa enjoy aja dengan aktivitas itu--maksudnya aku kuat dan "ndak papa" menghadapi 1000 halaman buku.

Alasan di bulan Juni: jujur saat daftar ulang aku goyah, Ist good choice? Waktu itu ada omongan tetangga yang cukup tajam, "Tolong dipikirkan ulang, nanti lulus makan apa?". Saya bertanya ke temen-temen CC waktu itu dan dapat jawaban yang memuaskan: lulusan sejarah bisa kerja di banyak sektor dan punya bekal beberapa skillset yang ajib.

Ketika masuk perkuliahan, dosen-dosen yang aku temui selalu berkata hal yang kurang lebih sama, "Kalo emang di akhir semester 2 tidak passionate, silakan keluar saja dari pada salah jurusan berkepanjangan". Sayangnya, aku tidak punya kesempatan itu. Aku hanya bisa maju, mati atau hidup, aku akan tetap di jurusan ini.

Lalu yang klimaks, ketika aku pikir sejarah tidak ada duanya, tidak bisa sembarang orang menguasai skill ini, rupanya dalam sebuah forum, "Fakta menjadi mahasiswa sejarah, bahwa semua orang bisa menulis sejarah saat mereka paham metodologi sejarah, bahwa kalian tidak spesial-spesial amat".

Hah? Lha terus gimana? Teriakku dalam hati.

Aku meneguhkan pilihan sejarah di atas lainnya karena dulu aku pikir program studi lain bisa didapatkan dari "jalanan". Aku pikir hanya sejarah di lingkup ilmu sosial saja yang eksklusif bagi lulusannya, ternyata tidak.

Lalu pertanyaan bagi diriku, bagaimana caranya bertahan dan bersinar?--karena tidak ada pertanyaan, mau pindah ke mana--

Ada dua yang sementara hipotesisku di jurusan ini: menjadi sangat expert di sejarah (akademisi atau peneliti) atau menjadi menerapkan ke prespektif sejarah ke bidang lain (yang aku belum tahu akan ke bidang apa). Aku menyebutnya Applied History for... (Something)

Lebih lanjut, aku mencari  apakah yang aku impikan disediakan di kelas atau tidak. Sejauh yang aku perhatikan, jawabannya tidak. Kelas tidak menyediakan banyak. Aku harus aktif di luar agar mencapai yang aku impikan.

Namun, ini baru pekan ke-5 perkuliahan. Masih ada 11 pekan lagi di semester ini. Masih ada 7 semester untuk menvalidasi mimpiku dan membiayai mimpiku. Semoga..

Kenapa Tuhan Menunda Kuliahku?

Jawaban dari pertanyaaan ini aku temukan setelah sebulan kuliah dan mengenal dunia perkuliahan serta melihat bagaimana aku yang hampir mati tenggelam di dalam lautan ini. Lagi-lagi kontemplasi atas kejadian-kejadian yang berakhir dengan ucapan Alhamdulillah. Thanks God!

Aku ingin berbagi beberapa hal yang Tuhan berikan padaku lewat penundaan kuliah selama dua tahun kemarin:

Satu saja, Tuhan tahu kondisiku dan ingin menyelamatkanku.

Maret 2020 covid-19 masuk ke Indonesia. Aku sedang menjalani bulan-bulan terakhir sebagai siswa SMA. Ujian Sekolah telah aku lalui dan bulan aprilnya aku akan Ujian Nasional. Di perprojectan, aku benar-benar merancang beberapa hal yang aku anggap wahh saat itu—walaupun kalo diingat lagi sampah juga perencanaannya, aku sangat bersemangat untuk mengeksekusinya.

Namun saat covid-19 datang. Aku harus terhenti. Aku terpukul keras. Hal terbaik yang sudah aku impikan saat keluar dari SMA tidak terlaksana. Padahal itu hal yang ingin sekali aku lakukan, sekali saja.

Gagal.

Juga project-project yang waktu itu aku canangkan. Project podcastku juga terbengkalai.

Lockdown. Aku kaget dengan situasi ini. Mungkin semua orang waktu itu kaget. Aku yang kala itu memiliki target tinggi untuk berkuliah di kampus gajah tak lolos. Praktis pada Agustus 2020 aku gagal, useless, dan mental jatuh. Malu. Pingin tidak bertemu siapa-siapa.

2 tahun berlalu. Aku bersyukur tidak diterima di ujian mandiri manapun. Bayangkan bagaimana aku yang jatuh mentalnya, akademiknya, dan komunikasinya, memasuki dunia kuliah dengan segala tugasnya, lingkungan barunya. Pasti aku bakal “mati” kalo-kalo itu terjadi. Paling tidak sekarat secara mental.

Bayangkan saja, biasanya di SMM satu kelas hanya ber10 maksimal 15 siswa, di perkuliahan satu kelas 45 orang. Semunya orang baru!. Aku saja di sebulan ini masih struggle membina hubungan baru apalagi aku yang rapuh di tahun 2020. Aku tidak terbayang kacaunya.

Adalagi yang aku syukuri. Tuhan memberiku ruang untukku mengenal diriku dan memaafkan diriku.

Aku pergi 7 bulan tanpa hape, menutup diri serapat mungkin dengan semuanya, hingga akhirnya bisa berbicara banyak dengan diri sendiri.

Aku tahu lebih tahu batas diriku. Aku bisa mengenal tubuh yang selama ini membawa diriku, mengenal mental yang selama ini menahkodai senang-sedihku, mengenal kelemahan dan kelebihanku. Paling tidak lebih baik dan lebih intens dari sebelumnya.

Aku juga berusaha memaafkan diriku yang dulu. Semua masa lalu yang menyakitkan, penyesalan melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Aku berdamai dengan itu.

Jelas prosesnya sakit. Sendiri. Tanpa tepuk tangan yang sebenarnya aku cukup haus dengan itu. Tanpa teman dekat yang sungguh aku butuhkan saat itu. Hanya dengan diriku sendiri. Ditemani lingkungan kecil tanpa keriuhan dunia maya.

Alhamdulillah proses sakit telah itu berakhir bahagia. Aku hari ini sudah lebih baik dari 2020.

Terimakasih Rabbi, takdirMu memang sebaik itu padaku. Aku selalu yakin dengan itu walaupun berat.

Hari Ke-255 : Maba dan Usia 20

Pilihan sulit aku ambil 2 tahun yang lalu. Pandemi, lulus sma, dan tidak diterima di perguruan tinggi. Terucap asal dari mulutku, "Ahh kuliah 2022 aja, pandemi udah ilang, offline!", ternyata kenyataan sekarang.

Aku tak tahu ini baik atau buruk. Yang jelas semua takdir adalah anugrah.

2 tahun menjeda pendidikan menjadikan aku seorang yang "terlambat" untuk kebanyakan orang.

..


Menjadi maba seharusnya menjadikanku merasakan energi yang tak kekurangan. Nyatanya, mataku melihat pada cermin, tampak seorang yang lesu, penuh dengan ambisi sedikit aksi, pemalu, dan minder. 

Aku mengaku pada cermin. Aku tahu apa yang ingin aku tuju. Aku catat dan rinci pada sebuah kolom-kolom excel, sayang, aku masih kesulitan mengatur diriku sendiri.

..


Menjadi 20 adalah sesuatu anugrah bagiku. kupikir indah sekali 20, ternyata masih seperti ini. 

20 ku masih baru saja dimulai. kata orang, "You are not lost, you are just early in the process"

..


Selamat datang hari-hari dengan buku, pesta, dan cinta. Selamat datang bulan-bulan penuh idealisme. Selamat datang tahun-tahun perjuangan.

17 Agustus, Remisi, Berpisah, dan Sedikit yang Bisa Kubagi

17 Agustus memang setiap tahunnya spesial, paling tidak sejak 2015. Bukan, bukan karena perayaan kemerdekaan, tetapi ada milestones kecil yang kerap terjadi di tanggal ini.

Terkhusus 17 Agustus 2022, hari rabu terakhir (mungkin) aku ngajar di Lapas. 

Tadi pagi, dengan tergesa kupacu perjalanan dari Kendal ke Semarang. Namun, aku tidak mendapatkan pintu besi paling depan itu terbuka,

"Ngajinya libur mas, tahanannya sedang upacara di Balai Diklat"


Deg..

Aku, yang sedari awal mengejar waktu ke sini hanya sekadar pamitan, tidak dapat masuk. Zonk.

Aku membuka foto cetak yang akan kuserahkan sebagai pesanan beberapa tahanan. Foto kawan mereka yang aku bantu cetakan di fotokopi dekat rumah mungkin akan lebih lama tersimpan di laciku.


Oh ya, mereka spesial. Tahanan yang masih mau mengaji dan bertaubat di dalam Lapas. Aku tak tahu banyak karena apa mereka masuk ke ruangan bernama penjara ini, tetapi yang aku tahu dan lihat betul, ada sebuah "pesantren" yang berisi beberapa orang yang hendak memperbaiki diri.

Yang aku lihat, ada nenek berusia 60 tahun yang sangat sabar belajar mengaji. Aku ingat betul,

 "Panggil Mak aja, jangan Bu, ya" dengan logat Betawinya.

Ada seorang tuli yang masuk-keluar lapas ini 3 kali. Ada pejabat yang kepeleset kasus yang ia bawa. Ada orang biasa yang diplesetkan pihak lain. Ada juga orang yang  masuk untuk menggantikan bosnya.

Namun sekali lagi, mereka semua orang yang mau duduk mengaji di hadapan mas-mas yang umurnya seanak bahkan secucu mereka. 

Mereka bersabar, mengeja "Ta" dengan "Tsa", menyambung beberapa huruf dengan panjang-pendeknya.


17 Agustus 2022, entah berapa yang dapat "hadiah" remisi hari ini. Entah berapa yang dikurangi jatah menginap di pesantren itu.


Rabu, semoga di lain rabu, semoga di lain rabu dan di lain tempat

Meracau

Apakah yang tidak tersampaikan itu cinta?


Apakah yang tidak terbalas itu cinta?


Ataukah yang tak berani sekalipun masih di pikiran itu juga cinta?


Ahh, aneh sekali..

Penting Ndak Untuk Berkuliah?


Kalo di dunia kerja akan belajar hal baru lagi, ngapain kuliah?

Tega kamu buang duit keluarga +- 20 jt per tahun?

Jika perbulan karyawan dapat 1,2-1,5 juta, kenapa tidak kerja saja?

Katanya mau meningkatkan potensi, kenapa gak ngambil kursus peminatan?


Setahun lalu aku berfikir apa pentingnya kuliah? Toh bakal kerja juga pada ujungnya? Ditambah lingkungan di sekitarku waktu itu adalah orang-orang yang sudah lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan. Maka pertanyaan-pertanyaan mengenai perlu-tidaknya kuliah sempat mampir lama di pikiranku.

Fakta bahwa jika uang kuliah dipakai untuk usaha maka usaha yang dibangun akan lebih cepat berkembang dan menghasilkan profit., membuat aku ingin langsung ke dunia usaha. Aku sempat intensif mendalami peluang usaha tanaman Porang. Dengan modal menyewa beberapa ribu meter lahan dan ditanami porang, dirawat hingga dua tahun, kemudian panen akan mendapatkan keuntungan yang lebih nyata dan cepat.

Itu yang sederhana. Atau memulai usaha-usaha lainnya. 

Uang besar modal kuliah bakal bisa mendanai ongkos belajar dalam praktik usaha, bukan? Beli bahan baku atau barang dagangan, sewa tempat atau buat website, biaya operasional akan bisa tercover oleh uang tersebut.

Apalagi jika aku membuka usaha, aku masih akan tetap belajar, leaning by doing, ikutan komunitas, ikut seminar dan sebagainya.

 Lalu buat apa kuliah?

Cerita dari beberapa teman yang sudah bekerja di pabrik ataupun menjaga usaha makanan, mereka mengantongi minimal 1 juta hingga 1,5 juta dengan bekal ijazah SMA atau SMK mereka. Betapa tidak tergiurnya aku saat itu.

Lalu buat apa kuliah? Masih relevankah?

Kuliah Melatih Skill Hidup dan Skill Akademik

Aku menemukan jawaban ini dari para mentorku baik di sekolah maupun luar sekolah, dari berbagai bidang: dosen, wirausaha, freelance, wiraswasta, dan ASN.

Aku simpulkan begini, kegunaan kuliah itu melatih otak dan otot kita dalam dua hal, skill hidup dan skill akademik.

Pertama, skill hidup (lifeskil) sesuai namanya adalah kemampuan-kemampuan penting untuk meraih hidup yang aman dan nyaman. Secara umum kemampuan ini seperti, berkomunikasi dengan baik, bernegosisasi, berorganisasi, mengelola waktu, dan seterusnya.

Kemampuan ‘sepele’ lainnya terkait lifeskill yang juga penting antara lain, mengurus kesehatan sendiri, pergi ke bank, ke pasar, mengurus dokumen (KTP, Passport, dll), berkunjung ke pak rt, dan seterusnya.

Kabar bukurknya, daftar kemampuan-kemampuan ini harus dilatih agar terbiasa melakukannya. Tidak bisa serta merta keluar, sak det sak nyet, harus terus dilatih. Tidak bisa muncul dengan sendirinya, tidak automatis hadir jika dibutuhkan. Kata guruku, harus dikondisikan dan dicoba satu-satu.

Kedua, skill akademik yaitu kemampuan yang berhubungan dengan perkuliahan itu sendiri. Kemampuan ini adalah membaca jurnal, menyimpulkan, meriset, mengkritisi sebuah pernyataan, menulis laporan, dan sebagainya.

Kemampuan ini juga seperti memastikan tugas dikerjakan dan dikumpulkan, kemapuan non teknis mengenai komputer dan software, mencari referensi, dan seterusnya.

Menariknya, di dunia pekerjaan kemampuan hidup dan akademik akan sangat kepake. Meskipun subjek yang dipelajari berbeda, skillset yang digunakan nggak akan jauh berbeda.

Maka tidak haran banyak perusahaan besar di negeri ini yang masih mensyaratkan lulusan sarjana sebagai prasyarat mendaftar kerja. Yang mereka cari bukan apa yang ada di kepala, tetapi lebih ke skill set yang sudah terbangun selama kuliah. 

Kata mentorku, untuk ngajari kerja itu mudah. Yang sulit ngajari kerja keras, push limit, ngejar target dan seterusnya.

Dengan Berkuliah, Potensimu Akan Melejit

Jika semasa SMA siswa sudah memiliki ketertarikan ke suatu bidang, di bangku perkuliahan minat itu berpotensi “jadi”. Minat akan menjadi piawai dan ahli.

Kenapa aku bilang berpotensi, di universitas ada banyak sekali UKM yang beragam sekali. Di Kampus kami, dari mulai debat, pecinta alam, menulis, olahraga sampai beladiri ada.

Kalau pun tidak didapatkan di kuliah, di sekitaran kampus ada banyak komunitas yang sesuai minat kita.

Tentu PRnya adalah menemukan tempat berkembang yang suportif. Menemukannya perlu waktu dan belum tentu ketemu yang ideal sekali. Namun, namanya sudah dalam wadah yang disatukan minat yang sama, akan mudah untuk maju.

Sebagai pembanding, jika sudah menemukan minat dan tidak berkuliah, seorang masih bisa mendapatkan pengembangan minat di luar sekolah. Namun, harus lebih effort dalam menemukan informasi di sosial media atau di forum-forum minat terkait.

Namun, perbedaan yang jelas sekali adalah penghargaan yang akan didapatkan di dalam kampus akan lebih besar. Ini pendapat pribadiku.

Kedua, potensi pendanaan dan pendampingan di kampus itu gede. Istilahnnya bakal diongkosi kalo mau lomba atau akses modal bagi usaha mahasiswa

Ketiga, jaringan di kampus yang memiliki minat serupa dan berhasil hidup dari minatnya tentu akan lebih luas ketimbang yang tidak memilih masuk ke kampus.

Jadi Berkuliah Tetap Penting

Secara umum sangat penting, terutama yang butuh mengasah life skill dan akademik skill di ranah formal, lebih khusus bagi orang yang menginginkan pekerjaan di sektor formal. Di Indonesia selembar ijazah itu masih dihargai lebih. Di masyarakat juga begitu, yang berpendidikan punya tempat yang lebih tinggi ketimbang yang tidak.

Namun, tidak bisa dipungkiri tidak semua orang butuh kuliah (formal). Menurutku, kebutuhan kuliah ini akan tidak relevan bagi para pembelajar jalanan yang subjek ilmunya belum tersedia di kampus.

Baik Kuliah Maupun Tidak, Belajar Adalah Kewajiban

Mau di dalam kampus, mau di luar kampus, di pabrik, di pasar, di toko, di jalanan sekalipun, belajar adalah kewajiban bagi yang orang ingin bertumbuh.

Belajar di luar kampus itu bagus karena akan bertemu dengan praktisi dan dihadapkan dengan pengalaman yang riil terutama bagi pelaku usaha dan korporasi.

Apalagi belajar di dalam kampus, selain menyiapkan otak dan otot pengetahuan, peluang "maju" di kampus akan lebih besar bila mahasiswa mampu memanfaatkan tiga-lima tahun belajarnya dengan baik.

NB: Agar seimbang, perlu sekiranya aku menulis apa-apa yang tidak kampus ajarkan, tetapi dibutuhkan sekali di kehidupan pascakampus. Soon insyaAllah.


Kamu Sudah Memilih Unnes dan Unnes Sudah Memilihmu

Kata Kak Fauzan, ini memang bulan keberuntungan. Juli kali ini benar-benar menjadi keberuntungan bagi peserta seleksi ujian masuk PTN/S karena hampir semua pengumuman kelulusan ada di bulan ini.

Aku, seperti yang sebagian pembaca tahu, sudah dapat satu kursi di Universitas Negeri Semarang. Alhamdulillah. Dapat dari jalur "paling murah" yaitu SBMPTN. Dapat dengan nilai sangat memuaskan--bagi diriku sendiri nilai kepala 6 besar itu tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Aku gagal sekali di Juli ini. Sedih rasanya, ditolak kedua kalinya oleh "cinta pertama". Meskipun aku paham betul bahwa usahaku yang kedua ini tidak semaksimal sebelumnya. Jauh dari kata cukup dalam persiapannya. Alhasil, penolakan yang sungguh tidak aku prediksi.

Itu tidak pahit amat. Yang lebih pahit adalah ketika mendengar kanan dan kiri, orang yang berinteraksi dengan aku baik di SMP SMA maupun di sosial media, diterima di kampus yang lebih mentereng. Jujur saja sedih, dalam sekali. Sampai aku menulis ini aku masih berusaha menghibur diri dan menerima keadaan. Salah satu caranya yang efektif adalah ucapan selamat kepada mereka. Hei Kamu Hebat...

Kalo melihat torehan nilai UTBK--aku berharap ini terakhir aku menulis atau bercerita ke orang lain, nilaiku sangat amat cukup untuk masuk di jurusan yang sama di tempat "cinta pertamaku". Perbandingannya aku dengar sendiri dari kawan yang lolos di sana yang memiliki nilai jauh di bawahku. Atau tempat yang aku tolak untuk mendaftar karena bosan berada di sekitarannya. Belakangan aku tahu, jurusan yang sama di tempat itu merupakan jurusan terbaik sekaligus terberat se-Indonesia. Aku ber-ahh panjang karena dua hal: untung tidak masuk ke sana dan heh, seharusnya aku di sana.

Aku takut tulisan ini cuma penyesalan-penyesalan belaka, tapi sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan setidaknya untuk mengikat perkataan ini di kepalaku.

Yang mengucapkan adalah mentor kami di CC, "Ingat bahwa kalian di sini karena kalian sudah memilih kami dan sebaliknya kami sudah memilih kalian"

Deg..
Aku, bila teringat kalimat ini, langsung pudar menyesalku dan menebal rasa syukurku. Karena, Hei kamu sudah memilihnya dengan pelbagai pertimbangan, bukan? Lalu kenapa saat kamu dipilih olehnya kamu tidak terima hanya karena silau dengan glamornya tetangga sebelah dan tetangga jauh?

Ahh. Mungkin aku harus terbiasa dewasa karena memang sudah umurnya. Terlebih karena tidak ada yang bisa diulangi dari waktu. Yang terjadi benar-benar sudah terjadi dan takkan ditarik mundur.

Hi, Maaf Ya.

Aku sedang berusaha konsisten menulis (lagi). Terhitung hari ini, aku menjalankan hari ke 40 menantang diri menulis catatan harian. Aku mengunggahnya di blog yang tidak akan aku bagikan sekarang (atau mungkin sampai kapan pun, entah). Nama blognya aku buat rumit agar aku tidak mengingatnya. 

Hari yang cerah sekali. Kau tahu, hari ini ada ribuan kabar baik yang aku terima. Aku senang sekali membacanya. Bahkan, aku meninggalkan pesan dengan 'like' di tweetnya.

Btw, jika kau menemukan tulisan ini dari Instagram, aku masih hiatus dari akun itu. Aku cukup aktif di Twitter karena beberapa alasan: ruang penyimpanan hape terbatas, malas melihat update, dan memilih hidup lebih tenang di Twitter.

Banyak yang ingin aku ceritakan karena aku kehilangan tempat bercerita. Sementara semua ceritaku aku simpan di blog rahasiaku.

Begitu saja, semoga ada ide untuk menulis lagi di sini.

Hari ke-10 : Cerita Cintaku

Aku ingin menceritakannya, tapi aku benar-benar malu.

Kalo kagum boleh disebut cinta, mungkin hati ini telah mencinta 9-10 gadis sepanjang ia berdetak.

Kalo boleh perasaan ini disebut cinta, mungkin hanya 2-3 saja yang sempat diungkapkan kepada gadis-gadis itu.

Kalo jawaban mereka itu juga bagian dari cinta, maka belum ada yang menjawabnya.

Ya, aku belum menemukan cinta.

Itulah mengapa aku malu menceritakannya

Hari ke-9 : Obrolan Sunyi Di Jalan Pulang.

Sore itu jalanan padat, khas waktu pulang kerja. Tak cuma pekerja, pelajar dan orang yang memiliki urusan di kota akan pulang ke rumahnya.

Bus Kota tak jauh berbeda dengan jalannya. Para penumpang berebut tempat duduk saat pintu bus terbuka. Terutama pekerja, mereka ingin tidur sembari menunggu dipanggil nama halte tujuan mereka.

Penumpang yang berebut beragam sekali. Pekerja dengan celana bahan hingga pekerja dengan sandal jepit kusam. Pelajar SD sampai mahasiswa tak berseragam hingga anak kecil yang ikut serta berekreasi orang tuanya.

Setelah sebuah tempat transit yang sesak, para penumpang masuk ke dalam bus, melaju bersama. 

Seperti yang diketahui, tidak semua orang dapat tempat duduk, akan ada lebih banyak pasang kaki yang tegak menahan tubuh yang (mungkin) kelelahan.

Nyaris tidak ada suara, kecuali satu dua obrolan teman sebaya, itupun sering ditegur petugas bus karena mengganggu. Lagu khas Jawa yang terdengar hanya di baris depan dan belakang atau teriakan petugas bis ketika akan sampai di halte berikutnya.

Namun, aku melihat mata mereka saling berbicara satu sama lain. "Obrolan" sore itu dibuka dengan mata seorang anak kecil yang pulang dari pusat perbelanjaan, mungkin sepatu yang dipakainya adalah sepatu yang baru saja dibeli. Matanya seolah berkata, "Duniaku indah sekali!".

Berjarak tak jauh dari sana, ada pelajar SMA. Matanya letih sekali, seperti seharian telah digunakan untuk melihat soal-soal. Namun nuraninya masih kuat untuk menahan diri mengambil tempat duduk yang barusan kosong untuk diberikan ke bapak tua bercelana bahan. Mata letihnya memandang sekitar, berkata dalam sunyi, "Kurang 5 orang yang butuh kursi, kemudian aku akan bergegas mengambilnya".

Ada bapak dengan celana bahan seadanya dan sandal jepit, membawa ransel ukuran besar yang tidak terlalu penuh, mungkin berisi beberapa alat pertukangan. Matanya sayu, berkantong mata tebal hasil begadang bertahun-tahun untuk jaga malam setelah kerja seharian atau sekadar mendengarkan istri dan anaknya bercerita. Matanya memandang dalam ke anak kecil yang ceria itu, "Duduk di sana, nak. Duduklah hingga tulangmu kuat untuk menghadapi hidup. Biar bapakmu bangga kelak". 

Aku sangat membaca sorotan mata bapak tua itu dan hampir semua orang yang menunggu halte tujuannya.