Langsung ke konten utama

Postingan

Sehari Tanpa Hape

Pagi tadi, di parkiran Rumah Ilmu, Mana HP saayyyaa! dalam hati.

Coba masuk ke Rumil dulu untuk membiarkan saya tenang, kemudian mencari lagi. Kok beneran ndak ada!!!

Jadilah hari ini, tanpa hape, untung bawa laptop, masih bisa nugas dan komunikasi. 

Ada UTS jam 9 pagi dan jam 3 sore. Ada kelas daring jam 1 , yang ternyata UTS juga hehehe. Emang pekan UTS mau gimana lagi.

Lepas UTS jam 10.30 saya keluar Rumil (sebutan kami untuk Rumah Ilmu aka Perpustakaan Universitas) menuju Ruang Dosen Sejarah. Saya hendak menemui Bapak Kaprodi untuk menanyakan sesuatu, kemarin sudah tidak bertemu. Nihil, hari ini juga sama. Saya wa saja lewat WhatsApp Web yang ternyata kini tidak harus menyambungkan hape ke internet. Padahal hape saya posisinya offline. Alhamdulillah, ajaib memang.

Hari jumat = jumatan. Selepas jumatan yang super cepat karena di Masjid Kampus aka Masjid Ulul Albab, saya pergi ke warung super murah dan jangan-jangan paling murah di sekitaran Unnes. Saya pesan lauk udang goreng, kering tempe (entah kenapa orang Jawa bagian barat menyebutnya tempe orek), dan sop tanpa nasi dan minum karena sudah bawa wkwkkw. Hemat banget Cuma 4 ribu. Dan yang paling penting TANPA TUKANG PARKIR. Warung mana sekarang yang tanpa tukang parkir di depannya?

(pada saat mengetik ini, lampu di burjo mati seketika… emang biasa mati kata anak Unnes)

Bakda perut kenyang, saya balik ke MUA untuk ngecek tugas di Laptop. Agak kurang etis buka laptop di warung makan yang bayarnya Cuma 4 ribu. Setelah membuka website Elana dan menemukan UTS yang masih manusiawi (enggak ding) masih longgar deadlinenya. Saya cek kesulitan dan saya tinggal. Biasalah deadliner pasti begitu hahaha.

Saya berselancar di internet mengenai tugas lain dan sesuatu (apa itu? Saya kabarkan ketika dapat ya)

Lalu 14.15 saya mandi di MUA (entah terdengar biasa atau anh, tapi setelah mendengar orang dan mendengar suara orang seperti mandi saya mandi di MUA juga) lalu ibadah ashar dan persiapan UTS.

UTS, yang sebelumnya dijadwalkan 15.30 maju jadi 15.00. Untung saya ndak menunda untuk beli pulpen terlebih dahulu.

UTS sore ini adalah mata kuliah Bahasa Inggris, sebuah bidang yang cukup aduduh buat saya karena banyak hal di hidup saya gagal karena kekurangcerdasan saya di pelajaran ini. Jujur, ini UTS yang mudah karena hanya membahas apa yang sudah dipelajari – ndak seperti pelajaran sebelah yang materi dan soal yang diujikan suka overlap (colek matematika hahaha).

Saya selesai dengan cukup cepat, 40 menit, lalu bergegas keluar untuk koordinasi dengan kakak bagaimana teknis kita berdua pulang. Tektokan sebentar lalu sudah beres (dengan Google Meet!). saya menuju belakang Gedung Sejarah untuk mencetak beberapa dokumen dan membeli pulpen (akhirnya kesampaian) karena pulpen Standard saya mulai berkurang tintanya.

Tiba-tiba hujan datang seperti hari-hari biasanya di Semarang, tidak menentu waktunya. Tentu saya berusaha mempercepat langkah agar bisa ke destinasi berikutnya.

Tiba di depan motor, deg, kok dingin banget

Ternyata oh ternyata, jaket saya ketinggalan di kelas (yang mana masih banyak temen saya di sana ahhaah) yaudah setengah malu tapi juga males kalo sampai kehujanan saya kembali ke kelas.

Bakda dari kelas, hujan menderas, saya membuka payung saya menuju parkiran dan memakai atasan jas hujan, lalu mencoba menerjang lebatnya hujan. Alhasil, di tempat di mana saya duduk terasa sangat dingin, dan akan lebih dingin sebentar lagi di perjalanan pulang.

Tabik.

Maaf jika sangat “wagu” dalam bercerita.

Terima kasih udah membaca, semoga harimu menyenangkan.

Dokumentasi Pribadi - MUA


Terjebak Di Zaman Neolitikum

TUGAS UTS SEJARAH MASA PRAAKSARA

Penulis : Faruq Rakhmat

NIM : 3111422051

Prodi : Ilmu Sejarah

Dosen Pengampu : Bapak Syaiful Amin, S.Pd., M.Pd.

--

Suatu saat di kala teknologi sudah maju, ketika mesin waktu sudah benar-benar terwujud, pergilah sekelompok siswa SMA ke museum. Tentu, seperti sebagian besar remaja, kunjungan ini adalah kegiatan yang paling tidak menyenangkan. Hal itu dirasakan juga oleh dua anak paling bandel di museum siang itu. Azar dan Malik, dua siswa paling kreatif sekaligus malas yang awalnya berniat tidak ikut kunjungan ke museum. Namun, keduanya terpaksa berangkat karena jika mereka absen dari kegiatan ini, guru mereka mengancam tidak menaikan kelas untuk keduanya.

Museum purbakala terbesar di negara itu, adalah museum modern dengan koleksi paling lengkap sejagat raya. Paling tidak demikian klaim bagian marketing mereka. Di museum ini, terdapat tulang-tulang hewan dari zaman purba. Mulai dari T-rex hingga kadal purba. Museum ini dilengkapi dengan audio yang menggelegar dan visual ala film-film hollywood menarik pengunjung dari berbagai kota di negeri ini. Rombongan bis-bis dari ujung barat hingga timur negeri rela mengantri berbulan-bulan untuk dapat berkunjung ke sini.

Namun, tidak bagi azar dan malik. Dibayar pun mereka enggan. Dua bocah yang memang cara belajarnya disebut paling aneh oleh pakar pendidikan. Mereka cukup hyperactive. Mereka akan sangat bosan bila pembelajaran hanya searah dan begitu-begitu saja. Tulang Dinosaurus sebesar gedung? Mereka ber-wah sebentar lalu bersikap biasa saja lagi. Itu barang bisu, kata Azar. Dan seterusnya, mereka tampak tidak sumringah.

“Azar, lihat benda aneh itu”.

Di saat rombongan lain ikut di belakang pemandu museum, mereka sengaja terpisah di belakang untuk memandangi benda-benda aneh yang katanya digunakan sebagai alat pemburuan manusia purba pada zaman dahulu.

“Halah cuma batu!”, Azar setengah berteriak. “Kenapa mereka menyimpan hal tidak berguna semacam ini di museum?”. Ia memang tak meminta jawaban.

“Sepertinya tim eskavasi terlalu bersemangat sampai-sampai menaruh benda lonjong berujung tajam ini di rak kaca”, demikian pun Malik, tak jauh berbeda dengan teman dekatnya.

Mereka tidak sadar kalau keterpisahan mereka dengan rombongan diperhatikan seseorang. Beberapa detik kemudian mereka dipanggil oleh seorang pemandu tamu yang sudah selesai bertugas. “Hai bocah, mau lihat sesuatu yang lebih keren? Mari ikut aku”. Pemandu itu bahkan tak mengenalkan dirinya.

“Pak, jangan berbohong, di museum ini semuanya cuma rekaan saja bukan?” ungkap Azar yang masih tak percaya – dan nampaknya tidak akan percaya.

“Benar. Lihat semua ini. Bahkan kabarnya jika hanya seujung jempol benda putih ditemukan, para arkeolog berani menyebutnya tulang manusia purba”, Malik yang belum lama menonton video ekskavasi pun ikut-ikutan skeptis.

“Aneh sekali, bukan?”

Pria itu berbalik, “Apakah kalian tidak percaya?”.

“Tentu tidak pak, kami hanya percaya yang benar-benar sains katakan”.

“Baiklah kalo begitu, izinkan saya mengajak kalian ke masa lalu, maukah?”.

“Ha? Bapak punya aksesnya?”.

Kabar bahwa telah ditemukan algoritma yang bisa membuat beberapa orang kembali ke masa lalu sempat menggemparkan kota itu. Rupanya mereka semua ingin kembali ke masa lalu dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang hendak berlibur, menyapa dirinya pada masa kecil, atau bahkan membunuh kakeknya sendiri. Pemerintah melarang akses kepada algoritma itu dibagikan ke publik. Mereka hanya memperuntukan penggunaan mesin waktu untuk upaya mengetahui masa lalu.

“Tentu saja, saya bisa mengajak kalian ke 20 ribu tahun yang lalu”.

“Bapak tidak bercanda, kan? Baru beberapa ilmuan yang bisa menggunakan mesin waktu itu”.

“Percayalah. Kami, para arkeolog modern diberikan akses untuk menjelajahi masa lalu. Mari ikut sebelum saya berubah pikiran”.

Tanpa cing cong lagi, Azar dan Malik ikut pria yang tidak lebih tinggi dari mereka, putih dengan topi khas pendaki gunung yang diikat talinya ke atas.

Tidak lama, mereka tiba di sebuah ruangan kosong, tidak jauh dari definisi gudang. Mereka bertiga kembali berbincang.

“Hey, siapa namamu?”.

“Azar”.

“Lalu Kamu?”.

“Malik”.

“Nama yang bagus. Oke kalian mau cari apa di masa lalu?”.

“Emm…, coba cari batu berujung tajam itu, pak. Ia seperti tak berguna”.

“Mungkin kalian akan berfikir ulang setelah melihatnya”.

Tidak lama ruangan kotak itu bergetar singkat seperti habis terkena gempa ringan. “Sudah sampai”.

“Haa? Apa ini? Hutan? Tapi kok gundul? Pak anda tak salah?”

“Selamat datang di zaman Neolitikum. Di zaman ini, hutan-hutan sebagian gundul karena manusia purba penghuninya memanfaatkan menebangnya untuk bercocok tanam. Tentu tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat daerah ini panas”.

Mereka masih tidak percaya. Di bayangan mereka, masa lalu yang jauh itu selalu hijau dan rimbun dengan pepohonan, ini tidak. Mereka melihat ada sebidang tanah yang masih mengeluarkan asap dan tampak berwarna kehitaman bekas bakaran api. Di ujung sana, terlihat sungai yang membatasi hutan terbakar dan hutan yang masih rimbun.

“Pak untuk apa manusia purba melakukan hal ini?”.

Mereka membakar hutan sekedarnya untuk bercocok tanam, membuka lahan baru istilahnya. Manusia pada zaman ini sudah menemukan cara untuk bercocok tanam sehingga mereka bisa membudidayakan pangan secara lebih baik dari nenek moyang mereka”.

“Lalu berapa lama tumbuh-tumbuhan yang mereka tanam bisa dipanen?”.

“Tentu cukup lama, tanpa pestisida dan pupuk seperti di masa depan, tanaman akan sangat lama tumbuh sampai siap dipanen. Maka mereka akan banyak membuka hutan untuk menanam tanaman-tanaman ini”.

Mereka berdua ber-ohh singkat. Memandangi kekaguman pada ladang-langan baru yang berisikan tanaman seperti rerumputan liar, seperti makanan gajah.

Mereka mengira manusia purba bodoh dan tidak bisa mengelola tanah dan menanam tanaman. “Pak bagaimana cara mereka belajar?”.

“Pertanyaanmu menarik, Malik. Mari kita berjalan ke sana. Cukup jauh, tapi kita akan temukan jawabannya di sana”.

Mereka bertiga berjalan meninggalkan tanaman milik manusia purba – juga mesin waktu yang entah tidak kelihatan bentuknya karena tertutupi oleh dedaunan dan rimbunnya sebagian hutan.

Mereka bertiga tiba di gunung yang tidak terlalu tinggi, ujungnya masih bisa dilihat dengan mendongakkan kepala. Terlihat sebuah lobang seukuran manusia lebih sedikit yang ada di depannya.

“Hati-hati, kalian jangan berbuat sesuatu yang berisik, nanti bisa membangunkan sang penguasa tanah ini”, ujar pemandu dengan suara yang sangat kecil.

Penguasa tahan ini? Siapa? Dalam hati mereka berdua bertanya-tanya.

Tampak samar-samar di dalam goa itu ada sekelompok manusia yang aneh sekali. Mereka cukup berbeda dengan manusia modern. Tunggu, mereka itu..

"Azar! sabar, jangan terlalu dekat, kamu bisa tidak kembali ke masa depan!".

"Baik, pak". Ia mundur perlahan.

Tidak jauh dari goa itu, datanglah 3 makhluk yang sangat mirip dengan yang sedang terlelap di dalam goa. Azar mencoba memperhatikan sambil menahan nafas dalam-dalam. Ya, mereka manusia purba yang lainnya, begitu kata ia dalam hati.

Setelah manusia-manusia purba itu masuk ke goa dan membangunkan yang sebelumnya tertidur di dalamnya, mereka tampak sibuk sekali. Yang datang membawa beberapa barang, ada hewan kaki empat, ada pula semacam sayuran diikat dengan semacam tali – entah apa.

Dari mulut goa, ketika manusia modern melihat aktivitas nenek moyangnya. Mereka diam sama sekali, tetapi mata-mata manusia modern amat kagum dengan apa yang dilihatnya.

Walaupun tidak tahu persis apa yang mereka katakan, namun ketiganya tahu bahwa mereka yang ada di goa sedang memasak sesuatu. Mereka menggunakan batu tajam untuk menguliti hewan itu, menggunakan batu tajam yang lebih kuat untuk membagi hewan buruan menjadi beberapa bagian. Juga benda seperti batu lingkaran tumpul, mereka gunakan untuk memukul-mukul sebagian daging yang akan mereka masak.

Azar melihat hal lain selain masak-memasak. Matanya tidak bisa tidak melihat dinding yang ternyata tidak polos dan bersih. Dinding goa nampak berbagai lukisan, yang dominan adalah lukisan tangan dengan lima jemari bertumpuk berwarna merah. Entah dari mana warna merah itu berasal, otaknya hanya bisa berasumsi.

Pemandu itu memberikan kode untuk kembali. Mereka kecewa karena harus meninggalkan tontonan maha indah dari manusia purba di dalam goanya. Namun, hari menjelang sore, sebelum jejak mesin waktu itu hilang, mereka kudu kembali.

Tampak panik muka sang pemandu, “Kalian ingat bukan di mana mesin waktunya?”.

“Pak. Kami bahkan lupa dengan semuanya melihat betapa indahnya kehidupan di masa lalu”.

“Bukan, bukan. Kita akan kembali. Ada yang tahu di mana mesin waktu kita?”

Senja datang, mereka belum juga pulang.

Bersambung.

Referensi : 

https://sains.kompas.com/read/2020/01/05/095123523/kadal-purba-berusia-309-juta-tahun-ungkap-bukti-awal-pengasuhan?page=all

https://www.gramedia.com/literasi/manusia-purba-yang-ditemukan-di-indonesia/

https://www.dosenpendidikan.co.id/kebudayaan-zaman-batu/

Terima kasih (2)

Yaa, aku masih hidup dan aku bersyukur masih hidup.

Pernah, rasanya ingin sekali untuk, ya, end this life, wkwk. Mungkin di luar dugaan banyak pihak.

Bahkan, beberapa kali mempertanyakan, why I still life?

Kenapa masih aja dikasih napas? Kenapa nggak diselesaikan aja?

Biasanya sih kepikiran hal tersebut pas lagi “budreg2nya”.

Untung saja, entah lewat siapa saja, Allah selalu kirim jawaban kenapa aku masih dikasih waktu untuk hidup. Entah temen, orang random di jalan, pas lagi ngaca, entah scroll sesuatu di medsos, atau siapapun, aku dapat semangat hidup walau bertahan 1-2 hari. Itu udah alhamdulillah banget.

Why I still life? Karena nggak mungkin tanpa alasan dong. Maka aku beneran kepo kenapa masih dikasih hidup sama yang Maha Hidup? Aku dikasih misi apa?

Jujur, aku masih meraba jawaban pertanyaan tadi. Aku masih terus nyari dan terus kepo. Beneran karena ini?

Untungnya sejak dulu aku punya tempat buat cerita, nggak banyak, bahkan mungkin orang tersebut atau sekelompok ini nggak nganggep aku lagi ngeluarin semuanya di sana, beneran semuanya. But, is true, terima kasih telah menyelamatkan hidup aku beberapa kali. Makasih udah bilang gapapa gak sesuai ekspektasi, gapapa salah, gapapa nunda.

Dan juga beberapa tulisan acakku di journal ataupun di wa dengan nomor aku yang lain. Its verry helpful for me! 

Aku tahu tulisan ini nggak berguna bagi banyak orang, tapi cukup bagi aku untuk mengeluarkan sedikit sambat aku di sini.

Malam, selamat hari Kesehatan Mental Sedunia!

Abang (1)

Ketika capek datang, "Abang" seringkali membisiki,

    Dek, tujuanmu apa?

    Satu, dua, tiga (aku menjelaskan).

    Bisa dicapai dengan mudah?

    Tidak, Bang.

    Bisa ditebus dengan murah? 

    Tidak, Bang.

    Bisa diraih dengan leha-leha?

    Tidak, Bang.

    Dek, ketahuilah. yang engkau impikan itu butuh biaya untuk mewujudkannya, butuh air mata untuk menggapainya, butuh keseriusan untuk meraihnya. Istirahatlah sebentar, besok bangun lagi untuk membiayai mimpi-mimpi kamu!

43

Ternyata benar, saya bertemu 43 mahasiswa setiap hari dengan 43 kisahnya selama minimal 18 tahun yang tidak akan cukup ditangkap hanya dengan kesan pertama. Maaf ya gais.

Sebuah Rutinitas

Sejak kelas 5 SD, ketika diharuskan untuk sering menggunakan bus, aku senang sekali berada di dekat sopir. Waktu itu bus dalam kota begitu menarik bagiku terutama cara sopir mengendarainya. Aku memperhatikan bagaimana tangan sopir memutar-mutar kemudi dan menambah-kurangi perseneling.

Menginjak SMP, aku seringkali harus menaiki bus yang sangat panjang, bus yang lebih besar dari yang tumpangi ketika SD. Kesukaanku tetap sama, duduk di paling dengan, di samping, atau belakang sopir persis.

Aku makin kagum karena kemudi yang dipegang oleh sopir di bus ini lebih besar dari sebelumnya. Kemudian dikarenakan bus yang panjang, aku memperhatikan bagaimana sopir berusaha melenggak-lenggokan bus ketika menurunkan dan menaikkan penumpang dari halte.

Kesenanganku memperhatikan sopir menjadikannya aku tahu cara mengoperasikan kendaraan roda empat. Namun, baru ketika SMA aku lancar mengemudi dan makin jatuh cinta dengan aktivitas ini. Aku senang sekali bila diminta menyetir sesekali ke pasar ataupun sekadar buang sampah menggunakan mobil.

Ketika aku memiliki pengalaman yang cukup, aku mulai dipasrahkan untuk mengendarai mobil jarak jauh dengan waktu tempuh yang lumayan, kadang dua jam perjalanan, kadang empat jam perjalanan. Adakalanya, aku sering sekali mengendarai mobil hingga aku cukup merasa letih.

Pernah aku tanya ke sopir bus besar yang aku ceritakan di awal, berapa lama mereka mengendarai bus dalam sehari. Mereka menjawab, "Jika dapat 1 shift kerja, seorang sopir akan mengendarai bus dari jam 5.30 - 12.00. Namun, bila sopir berikutnya tidak masuk, biasanya ia melanjutkan ke jam kerja berikutnya, 12.00-18.30".

Aku berpikir, jika selama itu menyetir dalam sehari, pastilah kelelahan sekali. 

Aku mengambil kesimpulan, bila mengerjakan suatu pekerjaan secara tidak intensif, mungkin akan terasa menyenangkan. Namun, apabila sudah menjadi profesi, apapun itu aktivitasnya, pasti akan ada capeknya dan ada bosannya.

Jadi solusinya apa? Mungkin di tulisan yang akan datang.

entah kapan.

Mengapa Masuk Jurusan Sejarah?

Sejak awal memilih jurusan ini saat pendaftaran SBMPTN hingga kemarin hadir di diskusi dengan kating, aku memikirkan, kenapa aku mau-maunya masuk ke jurusan ini?

Alasan di bulan Januari: karena aku pernah baca textbook tebel karya Peter Carey dan merasa enjoy aja dengan aktivitas itu--maksudnya aku kuat dan "ndak papa" menghadapi 1000 halaman buku.

Alasan di bulan Juni: jujur saat daftar ulang aku goyah, Ist good choice? Waktu itu ada omongan tetangga yang cukup tajam, "Tolong dipikirkan ulang, nanti lulus makan apa?". Saya bertanya ke temen-temen CC waktu itu dan dapat jawaban yang memuaskan: lulusan sejarah bisa kerja di banyak sektor dan punya bekal beberapa skillset yang ajib.

Ketika masuk perkuliahan, dosen-dosen yang aku temui selalu berkata hal yang kurang lebih sama, "Kalo emang di akhir semester 2 tidak passionate, silakan keluar saja dari pada salah jurusan berkepanjangan". Sayangnya, aku tidak punya kesempatan itu. Aku hanya bisa maju, mati atau hidup, aku akan tetap di jurusan ini.

Lalu yang klimaks, ketika aku pikir sejarah tidak ada duanya, tidak bisa sembarang orang menguasai skill ini, rupanya dalam sebuah forum, "Fakta menjadi mahasiswa sejarah, bahwa semua orang bisa menulis sejarah saat mereka paham metodologi sejarah, bahwa kalian tidak spesial-spesial amat".

Hah? Lha terus gimana? Teriakku dalam hati.

Aku meneguhkan pilihan sejarah di atas lainnya karena dulu aku pikir program studi lain bisa didapatkan dari "jalanan". Aku pikir hanya sejarah di lingkup ilmu sosial saja yang eksklusif bagi lulusannya, ternyata tidak.

Lalu pertanyaan bagi diriku, bagaimana caranya bertahan dan bersinar?--karena tidak ada pertanyaan, mau pindah ke mana--

Ada dua yang sementara hipotesisku di jurusan ini: menjadi sangat expert di sejarah (akademisi atau peneliti) atau menjadi menerapkan ke prespektif sejarah ke bidang lain (yang aku belum tahu akan ke bidang apa). Aku menyebutnya Applied History for... (Something)

Lebih lanjut, aku mencari  apakah yang aku impikan disediakan di kelas atau tidak. Sejauh yang aku perhatikan, jawabannya tidak. Kelas tidak menyediakan banyak. Aku harus aktif di luar agar mencapai yang aku impikan.

Namun, ini baru pekan ke-5 perkuliahan. Masih ada 11 pekan lagi di semester ini. Masih ada 7 semester untuk menvalidasi mimpiku dan membiayai mimpiku. Semoga..

Kenapa Tuhan Menunda Kuliahku?

Jawaban dari pertanyaaan ini aku temukan setelah sebulan kuliah dan mengenal dunia perkuliahan serta melihat bagaimana aku yang hampir mati tenggelam di dalam lautan ini. Lagi-lagi kontemplasi atas kejadian-kejadian yang berakhir dengan ucapan Alhamdulillah. Thanks God!

Aku ingin berbagi beberapa hal yang Tuhan berikan padaku lewat penundaan kuliah selama dua tahun kemarin:

Satu saja, Tuhan tahu kondisiku dan ingin menyelamatkanku.

Maret 2020 covid-19 masuk ke Indonesia. Aku sedang menjalani bulan-bulan terakhir sebagai siswa SMA. Ujian Sekolah telah aku lalui dan bulan aprilnya aku akan Ujian Nasional. Di perprojectan, aku benar-benar merancang beberapa hal yang aku anggap wahh saat itu—walaupun kalo diingat lagi sampah juga perencanaannya, aku sangat bersemangat untuk mengeksekusinya.

Namun saat covid-19 datang. Aku harus terhenti. Aku terpukul keras. Hal terbaik yang sudah aku impikan saat keluar dari SMA tidak terlaksana. Padahal itu hal yang ingin sekali aku lakukan, sekali saja.

Gagal.

Juga project-project yang waktu itu aku canangkan. Project podcastku juga terbengkalai.

Lockdown. Aku kaget dengan situasi ini. Mungkin semua orang waktu itu kaget. Aku yang kala itu memiliki target tinggi untuk berkuliah di kampus gajah tak lolos. Praktis pada Agustus 2020 aku gagal, useless, dan mental jatuh. Malu. Pingin tidak bertemu siapa-siapa.

2 tahun berlalu. Aku bersyukur tidak diterima di ujian mandiri manapun. Bayangkan bagaimana aku yang jatuh mentalnya, akademiknya, dan komunikasinya, memasuki dunia kuliah dengan segala tugasnya, lingkungan barunya. Pasti aku bakal “mati” kalo-kalo itu terjadi. Paling tidak sekarat secara mental.

Bayangkan saja, biasanya di SMM satu kelas hanya ber10 maksimal 15 siswa, di perkuliahan satu kelas 45 orang. Semunya orang baru!. Aku saja di sebulan ini masih struggle membina hubungan baru apalagi aku yang rapuh di tahun 2020. Aku tidak terbayang kacaunya.

Adalagi yang aku syukuri. Tuhan memberiku ruang untukku mengenal diriku dan memaafkan diriku.

Aku pergi 7 bulan tanpa hape, menutup diri serapat mungkin dengan semuanya, hingga akhirnya bisa berbicara banyak dengan diri sendiri.

Aku tahu lebih tahu batas diriku. Aku bisa mengenal tubuh yang selama ini membawa diriku, mengenal mental yang selama ini menahkodai senang-sedihku, mengenal kelemahan dan kelebihanku. Paling tidak lebih baik dan lebih intens dari sebelumnya.

Aku juga berusaha memaafkan diriku yang dulu. Semua masa lalu yang menyakitkan, penyesalan melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Aku berdamai dengan itu.

Jelas prosesnya sakit. Sendiri. Tanpa tepuk tangan yang sebenarnya aku cukup haus dengan itu. Tanpa teman dekat yang sungguh aku butuhkan saat itu. Hanya dengan diriku sendiri. Ditemani lingkungan kecil tanpa keriuhan dunia maya.

Alhamdulillah proses sakit telah itu berakhir bahagia. Aku hari ini sudah lebih baik dari 2020.

Terimakasih Rabbi, takdirMu memang sebaik itu padaku. Aku selalu yakin dengan itu walaupun berat.

Hari Ke-255 : Maba dan Usia 20

Pilihan sulit aku ambil 2 tahun yang lalu. Pandemi, lulus sma, dan tidak diterima di perguruan tinggi. Terucap asal dari mulutku, "Ahh kuliah 2022 aja, pandemi udah ilang, offline!", ternyata kenyataan sekarang.

Aku tak tahu ini baik atau buruk. Yang jelas semua takdir adalah anugrah.

2 tahun menjeda pendidikan menjadikan aku seorang yang "terlambat" untuk kebanyakan orang.

..


Menjadi maba seharusnya menjadikanku merasakan energi yang tak kekurangan. Nyatanya, mataku melihat pada cermin, tampak seorang yang lesu, penuh dengan ambisi sedikit aksi, pemalu, dan minder. 

Aku mengaku pada cermin. Aku tahu apa yang ingin aku tuju. Aku catat dan rinci pada sebuah kolom-kolom excel, sayang, aku masih kesulitan mengatur diriku sendiri.

..


Menjadi 20 adalah sesuatu anugrah bagiku. kupikir indah sekali 20, ternyata masih seperti ini. 

20 ku masih baru saja dimulai. kata orang, "You are not lost, you are just early in the process"

..


Selamat datang hari-hari dengan buku, pesta, dan cinta. Selamat datang bulan-bulan penuh idealisme. Selamat datang tahun-tahun perjuangan.

17 Agustus, Remisi, Berpisah, dan Sedikit yang Bisa Kubagi

17 Agustus memang setiap tahunnya spesial, paling tidak sejak 2015. Bukan, bukan karena perayaan kemerdekaan, tetapi ada milestones kecil yang kerap terjadi di tanggal ini.

Terkhusus 17 Agustus 2022, hari rabu terakhir (mungkin) aku ngajar di Lapas. 

Tadi pagi, dengan tergesa kupacu perjalanan dari Kendal ke Semarang. Namun, aku tidak mendapatkan pintu besi paling depan itu terbuka,

"Ngajinya libur mas, tahanannya sedang upacara di Balai Diklat"


Deg..

Aku, yang sedari awal mengejar waktu ke sini hanya sekadar pamitan, tidak dapat masuk. Zonk.

Aku membuka foto cetak yang akan kuserahkan sebagai pesanan beberapa tahanan. Foto kawan mereka yang aku bantu cetakan di fotokopi dekat rumah mungkin akan lebih lama tersimpan di laciku.


Oh ya, mereka spesial. Tahanan yang masih mau mengaji dan bertaubat di dalam Lapas. Aku tak tahu banyak karena apa mereka masuk ke ruangan bernama penjara ini, tetapi yang aku tahu dan lihat betul, ada sebuah "pesantren" yang berisi beberapa orang yang hendak memperbaiki diri.

Yang aku lihat, ada nenek berusia 60 tahun yang sangat sabar belajar mengaji. Aku ingat betul,

 "Panggil Mak aja, jangan Bu, ya" dengan logat Betawinya.

Ada seorang tuli yang masuk-keluar lapas ini 3 kali. Ada pejabat yang kepeleset kasus yang ia bawa. Ada orang biasa yang diplesetkan pihak lain. Ada juga orang yang  masuk untuk menggantikan bosnya.

Namun sekali lagi, mereka semua orang yang mau duduk mengaji di hadapan mas-mas yang umurnya seanak bahkan secucu mereka. 

Mereka bersabar, mengeja "Ta" dengan "Tsa", menyambung beberapa huruf dengan panjang-pendeknya.


17 Agustus 2022, entah berapa yang dapat "hadiah" remisi hari ini. Entah berapa yang dikurangi jatah menginap di pesantren itu.


Rabu, semoga di lain rabu, semoga di lain rabu dan di lain tempat